Surabaya - Sejumlah kalangan di Kabupaten Bondowoso menantang enam mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya untuk membikin film tentang "Gerbong Maut" Bondowoso (1947).

"Itu tidak pernah terpikirkan, karena kami membuat video dokumenter tentang Gerbong Maut itu semata-mata tugas kuliah saja," ujar mahasiswi 'sutradara' video itu, Sherly Jessica, di kampus setempat, Jumat.

Didampingi sejumlah rekannya, Stephen Tirtoutomo (editor), Stanley Chrislie (audio visual), Ronald Wyenantea (kameramen), dan Brigitta Amelia L (produser), ia menjelaskan tim 'Gerbong Maut' itu memang melakukan survei untuk video dokumenter.

"Awalnya, kami menemukan rel yang terbengkalai secara tak sengaja di belakang Gedung Juang DHD 1945 Jatim itu, lalu kami ditunjukkan replika sebuah gerbong. Dari situ, kami akhirnya survei ke Museum Brawijaya di Malang dan Bondowoso," katanya.

Setelah itu, mereka membuat video dokumenter yang tidak terkesan sejarah secara faktual. "Kami mengawali dari kisah seorang detektif bernama Ronald Doyle yang ingin memecahkan misteri Gerbong maut," katanya.

Untuk kepentingan itu, sang detektif pun bergegas menuju Kota Bondowoso yang merupakan asal cerita Gerbong Maut. "Penelusuran itu merujuk pada sejumlah sumber atau saksi mata, seperti anggota veteran, pimpinan DPRD, dan anggota keluarga korban Gerbong Maut," katanya.

Kisah berlanjut pada temuan bahwa gerbong itu membawa 100 tawanan tanpa udara dan air selama 16 jam. "Kami melengkapi dengan perbandingan gerbong di DHD 1945 (Surabaya), Museum Brawijaya (Malang), dan data-data veteran di Bondowoso," katanya.

Ia menambahkan dirinya bersama rekannya juga sempat diundang pada peresmian Museum Gerbong Maut di Bondowoso pada 25 November lalu. "Acaranya menarik, karena ada drama kolosal tentang peristiwa perlawanan rakyat Bondowoso hingga terjadi Gerbong Maut pada 23 November 1947," katanya.

Prestasi lainnya juga ditorehkan mahasiswa Program Studi Arsitektur UKP yakni Nicolas Santoso dan Olivia Karlina Santoso, yang sukses mempertemukan bambu dan parkour dalam karya desain, sehingga mereka keluar sebagai juara pertama dalam Laras award.

Sementara itu, tiga orang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, yaitu Himas El Hakim, M. Nauval Taftazani dan Leonardus S. Sagala, memenangkan Kompetisi Debat Hukum "Scince Sational" yang dihelat Lembaga Kajian Keilmuan FH Universitas Indonesia pada 16-19 November lalu.

"Tema debat pengusutan harta koruptor mengantarkan kami menjuarai kompetisi debat itu. Di final, kami mendapat kubu pro yang mendukung konsep waris pidana tindak pidana korupsi. Kami menilai uang Negara yang telah dimakan oleh koruptor sedapat mungkin dikembalikan, sekalipun koruptor itu meninggal," kata El Hakim.

Sebelumnya, Februari lalu, mahasiswa FH Unair mendapat Juara 2 di National Moot Court Competition. Sementara El Hakim dan rekan setimnya pada Februari lalu juga menjadi juara di ajang debat yang diselenggarakan UPH, bahkan Leonardus S. Sagala juga pernah menjadi "best lawyer" di simulasi sidang. (*)