Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Endriartono Sutarto menilai ada empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadikan negara menjadi kuat, salah satunya pemimpin yang adil.

"Dalam sebuah hadits, Rasullah SAW berkata bahwa ada empat pilar yang menguatkan negara," kata Endriartono Sutarto melalui siaran persnya, Minggu.

Endriartono menjelaskan, empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konsep Nabi Muhammad SAW adalah, para pemimpin yang adil, para ulama yang menyamaikan ilmunya, para orang mampu yang dermawan, serta doanya orang-orang miskin.

Salah satu pilar utama dari empat pilar dalam konsep Nabi Muhammad SAW tersebut, menjurut dia, adalah pemimpin yang adil.

Sebelumnya, Endriartono mengatakan hal itu ketika menyampaikan sambutan padaperingatan tahun baru Islam, 1 Muharram 1434 hijriyah, di Alun-alun Jayabakti Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (24/11).

Peringatan 1 Muharram 1434 Hijriyah yang diselenggarakan Forum Ulama Garut tersebut dihadiri sekitar 1.000 jemaah, di antaranya para pimpinan pondok pesantren di Kabupaten Garut.

Endriartono menjelaskan, empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konsep Nabi Muhammad SAW adalah, para pemimpin yang adil, para ulama yang menyamaikan ilmunya, para orang mampu yang dermawan, serta doanya orang-orang miskin.

Salah satu pilar utama dari empat pilar dalam konsep Nabi Muhammad SAW tersebut, menjurut dia, adalah pemimpin yang adil.

Ia mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar agar dapat memilih memimpin yang adil dan amanah, mulai dari pemimpin di tingkat yang paling tinggi hingga ke tingkat yang paling rendah.

"Salah satu upaya untuk dalam memilih pemimpin yang adil dan amanah adalah dengan berdoa dan beristikharah kepada Allah SWT," katanya.

Sebaliknya, kata dia, Nabi Muhmmad SAW juga pernah berkata, jika para pemimpin sudah berperilaku tidak adil dan tidak amanah, maka negara dan bangsa tersebut secara perlahan-lahan akan mengalami kehancuran.

Pilar kedua, adalahpara ulama yang menyampaikan ilmunya. Menurut Endriartono, para ulama agar dikembalikan fungsinya sebagai pemimpin dalam mencetak kesalehan sosial.

"Hal ini penting dan harus terus dijalankan, meskipun perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren, madrasah diniyah, dan lembaga agama lainnya, belum maksimal. Mudah-mudahan para pemimpin di masa depan dibukakan hatinya agar lebih memperhatikan kesejahteraan ulama, pondok pesantren, dan lembaga agama lainnya," katanya.

Pilar ketiga, adalah para orang mampu yang dermawan. Menurut Endriartono, munculnya kesenjangan sosial yang memicu konflik horzintal di tengah masyarakat, karena orang mampu tidak memiliki kepedilian terhadap fakir miskan dan anak yatim-piatu.

Kesenjangan sosial ini, menurut dia, selain memicu konflik horizontal juga menimbulkan persoalan sosial lainnya seperti, perjudian, pencurian, penjualan manusia, dan sebagainya.

"Semoga orang-orang yang mampu terbuka hatinya untuk berjiwa dermawan," katanya.

Kemudian, pilar keempat adalah doanya orang-orang miskin.

Menurut Endriartono, semoga orang-orang miskin terus berdoa agar bangsa Indonesia diberikan pemimpin yang adil dan amanah, sehingga bisa membawa negara dan bangsa Indonesia menjadi kuat dan sejahtera. (*)