Madiun - Konvoi pesilat Persaudaraan Setia Hati (PSH) Terate dilempari batu di kawasan Batalyon Lintas Udara (Yonlinud) 501/Bajra Yudha, Jalan Urip Sumoharjo Kota Madiun, Jatim, dalam perjalanan berangkat berziarah, Kamis.

Koresponden ANTARA di Madiun melaporkan pelemparan batu itu terjadi saat sejumlah anggota Yonlinud 501 berupaya menertibkan konvoi pesilat yang suara motornya dianggap membuat bising di kawasan militer tersebut.

"Tanpa ada sebab, konvoi kami diserang dan dilempari batu oleh prajurit 501," ujar Koordinator Lapangan PSH Terate wilayah Magetan, Joko Suyono.

Meski demikian, pihak anggota pesilat tidak membalas. Selain itu, juga tidak ada anggota pesilat yang terluka. Petugas kepolisian setempat langsung menengahi dan menyuruh para pesilat melanjutkan perjalanan berziarah menuju Kelurahan Pilangbango, tempat pendiri PSH Terate dimakamkan.

Suran Agung merupakan agenda tahunan PSH Terate dan Tunas Muda Winongo untuk berziarah ke makam pendiri perguruan pencak silatnya setiap tahun baru Islam atau Muharam.

Untuk PSH Terate, Suran Agung tahun ini diagendakan pada tanggal 15 November dengan berziarah ke makam pendiri PSH Terate Ki Hajar Hardjo Oetomo di Desa Pilangbango, Kecamatan Kartoharjo dan makam tokoh pembaharu PSH Terate RM Imam Koesoepangat di Keluarahan Taman, Kecamatan Taman, Kota Madiun.

Sementara itu, untuk PSH Tunas muda Winongo, Suran Agung diagendakan pada tanggal 25 November mendatang dengan berziarah ke makam pendiri aliran pencak silat Setia Hati yakni Ki Ngabei Soero Diwiryo (Eyang Suro) di Kelurahan Winongo, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun.

Wakapolda Jatim Brigjen Eddi Sumantri saat gelar pasukan pengamanan menyatakan, guna menghindari konflik polisi berupaya agar kedua kelompok pesilat tersebut tidak bertemu. Selain pengawalan, rute perjalanan konvoi juga diatur untuk menghindari bentrokan.

"Saya menilai tidak ada skenario dari sejumlah kasus yang ada. Logikanya, jika kelompok yang satu diam saja, sedang kelompok yang lain membuat tidak nyaman maka pasti akan terjadi benturan," kata Wakapolda. (*)