Malang - Unjuk rasa yang digelar puluhan mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) di depan gedung rektorat, Selasa, nyaris ricuh akibat pengeras suara (megaphone) mereka dirampas petugas keamanan ketika sedang berorasi.

Selain itu, kericuhan yang nyaris terjadi tersebut juga akibat aksi saling dorong antara mahasiswa dengan para petugas keamanan.

Para pengunjuk rasa ingin menemui rektor Prof Dr Suparno. Namun, keinginan puluhan pengunjuk rasa untuk ditemui rektor tersebut tidak terwujud, sehingga mereka memaksa untuk menemui rektor dan terjadi saling dorong.

"Kalau rektor tidak mau menemui kami, berarti rektor membenarkan jika rektor dan sejumlah dosen UM ini terlibat dalam kasus korupsi seperti yang dituduhkan selama ini," tegas salah seorang mahasiswa UM disela-sela aksi.

Puluhan mahasiswa tersebut ingin meminta klarifikasi pada pihak rektorat terkait dicatutnya nama UM dalam kasus korupsi proyek di sejumlah universitas di Indonesia dengan tersangka Angelina Sondakh dan Nazaruddin.

Bahkan, ada beberapa karyawan dan dosen UM telah ditetapkan menjadi tersangka dalam kasus korupsi proyek pengadaan peralatan laboratorium di Fakultas Matematika dan Imu Pengetahuan Alam (FMIPA) kampus tersebut.

Saat ini kasus tersebut akan segera disidangkan karena berkasnya telah diterima Pengadilan Tipikor Surabaya. Dalam kasus itu ada tiga orang karyawan UM yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni Handoyo (Kepala Biro Administrasi dan Keuangan UM) serta Abdullah dan Sutoyo (dosen UM).

Humas aksi Septian Maulana mengatakan, aksi tersebut dilakukan dalam rangka meminta klarifikasi pada pihak rektorat terkait kasus koruspi yang melibatkan UM demi menjaga nama baik almamater.

"Kami malu jika kampus kami dituduh sebagai kampus sarang korupsi, kalau memang rektorat tak mau memberi klarifikasi, maka kami akan mencari sendiri datanya," kata Septian.

Selain menuntut klarifikasi terkait kampusnya yang dituduh sebagai sarang korupsi, puluhan mahasiswa tersebut juga menuntut transparansi pembangunan Gedung Graha Cakrawala dan kolam renang di lingkungan kampus UM.

"Agar semua jelas dan transparan, kami minta ada audensi terbuka antara mahasiswa dengan rektor UM. Kami malu kalau kampus kami dituduh sebagai sarang korupsi," tandasnya. (*)