Trenggalek - Produksi genteng di Trenggalek menurun karena perajin kesulitan mendapatkan bahan baku tanah liat akibat penggalian yang terus-menerus selama dua puluh tahun terakhir.

"Kalau dulu di sekitar tanah rumah masih bisa dipakai, tapi kalau sekarang sudah habis digali. Lihat saja di belakang rumah bentuknya sudah serti kolam semua," kata salah seorang pengusaha genteng di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan, Mujiati, Rabu.

Ia menjelaskan, untuk tetap bisa mengerjakan pembuatan genteng, para pengusaha maupun perajin di wilayahnya terpaksa harus membeli bahan baku tanah liat dari desa dan kecamataan lain.

Beberapa pengusaha bahkan harus mendatangkan tanah liat dari luar Trenggalek demi mendapatkan bahan baku tanah liat dengan kualitas terbaik.

"Kami harus selektif karena tanah untuk bahan utama genteng ini harus yang berkualitas bagus. Untuk harganya satu pikup biasanya sekitar Rp100 ribu per rit (truk), belum lagi harus ditambah makan dan rokok, jadi totalnya bisa sampai Rp150 ribu," ujarnya.

Beberapa lokasi tanah yang menjadi langganan perajin genteng tersebut berada di Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan dan daerah sekitarnya.

Mujiati menambahkan, selain bahan baku, para pengusaha dan perajin genteng di Desa Kamulan, Kecamatan Durenan ini juga mengeluhkn minimnya tenaga kerja yang ada di sekitar lingkungn mereka.

Tenaga kerja yang dulu mayoritas diisi oleh para santri pondok pesantren yang ada di daerah tersebut, kini berkurang hingga lebih dari 50 persen.

"Jumlah santrinya sendiri memang berkurang, selain itu sekarang ini banyak santri yang tidak mondok sehingga setiap hari pulang ke rumah masing-masing (daerah asal)," katanya.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan kurun 5-10 sebelumnya. Kala itu, mayoritas santri yang bermukim di pondok pesantren sehingga waktu kosong banyak digunakan untuk bekerja di industri genteng yang menjamur di Desa Kamulan maupun sekitarnya.

Akibat dari minimnya jumlah tenaga kerja tersebut, saat ini para pengusaha banyak yang menggunakan sistem borongan untuk proses pencetakan genteng.

"Untuk mencetak 500 genteng itu, pekerja diberi upah antara Rp40 ribu hingga Rp70 ribu, sesuai dengan jenis genteng yang dicetak. Kalau pakai sistem harian sudah tidak efektif lagi," jelasnya.

Menurut Suhari, perajin genteng lain, minimnya tenaga kerja tersebut berdampak pada produktivitas genteng yang dihasilkan. Saat ini, lanjut dia, banyak perajin yang kesulitam memenuhi pesanan pembeli maupun toko-toko bangunan dari berbagai daerah yang menjadi pelanggan mereka.

"Apalagi kalau musim proyek pemerintah antara Agustus hingga Desember seperti ini biasanya ramai-ramainya pesanan. Tapi mau bagaimana lagi, kemampuan produksi kami sekarang benar-benar tidak bisa mumpuni karena keterbatasan bahan baku juga tenaga kerja," tuturnya.

Ada tiga jenis genteng yang banyak diminati oleh warga antara lain enis mantili, karangpilang dan gelombang.

"Kalau yang paling favorit mantili, selain banyak diminati proses pembuatannya juga lebih mudah, tidak perlu dikeringkan sampai maksimal sudah bisa langsung dimasukkan ke dalam tungku pembakaran," jelasnya. (*)