Trenggalek - Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur mendirikan posko khusus menghadapi Hari Raya Kurban 1433 H guna mengawasi lalu lintas dan kesehatan ternak kurban.

"Posko ini akan memiliki beberapa fungsi, salah satunya adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat yang ingin berkonsultasi tentang bagaimana mendapatkan hewan kurban yang baik dan sehat," kata Kepala Bagian Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Trenggalek, Dwi Setyatmaji, Kamis.

Selain itu, posko khusus tersebut juga siap memberikan pendampingan terhadap pengusaha maupun masyarakat umum untuk memilihkan sapi maupun kambing kurban yang sesuai standar kesehatan.

Pada hari H penyembelihan hewan kurban, petugas dinas peternakan juga disebar di tiap kecamatan untuk memantau ke sejumlah masjid dan mushola yang dijadikan lokasi penyembelihan.

"Terutama untuk masjid yang menyembelih dalam jumlah banyak serta apabila ada masyarakat ada yang minta bantuan dari kami untuk memeriksa hewannya," imbuh Dwi.

Ia menjelaskan, dengan adanya posko khusus tersebut diharapkan dapat mengurangi resiko penyebaran beberapa penyakit hewan kepada manusia.

"Karena masyarakat kita masih banyak yang belum mengetahui penyakit apa saja yang berbahaya serta bagaimana cara mendeteksinya," ujarnya.

Beberapa penyakit hewan yang bisa menular pada manusia ("zoonosis") dan perlu mendapatkan kewaspadaan antara lain cacing hati, TBC, brucelosis serta antraks.

"Sebagai gambaran saja untuk mengetahui hati hewan itu masih aman dikonsumsi atau tidak itu sebetulnya gampang, pertama kita lihat saja bagian tepi dari hati tersebut, apabila masih lancip serta warnanya merah hati, itu berarti masih bagus," ujarya.

Sedangkan apabila mendapati hati sapi maupun kambing dalam kondisi pucat, sedikit menghitam serta bagian pinggir tumpul, maka perlu dilakukan pembedahan untuk mengetahui ada tidaknya cacing didalamnya.

"Ketika dibelah kemudian muncul hewan kecil semacam jentik-jentik, maka hati tersebut tidak layak komsumsi. Kemudian untuk TBC tanda-tandanya, apabila dipegang paru-parunya.*