Kediri - Kinerja Pabrik Gula Ngadiredjo, Kediri, milik PT Perkebunan Nusantara X pada giling 2012 cukup menggembirakan dengan diraihnya predikat tertinggi dalam pencapaian rendemen untuk pabrik gula di lingkungan BUMN se-Indonesia.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X Subiyono di Kediri, Selasa, mengatakan, tingkat rendemen atau kadar gula dalam tebu hasil giling PG Ngadiredjo hingga saat ini rata-rata mencapai 8,69 persen.

"Bahkan selama 15 hari terakhir, rendemen mampu mencapai di atas 10 persen. Namun, secara rata-rata sejak awal giling sampai sekarang angkanya 8,69 persen," katanya di sela peringatan 100 tahun berdirinya PG Ngadiredjo, Kediri, Jawa Timur.

Acara peringatan satu abad pabrik peninggalan perusahaan swasta Belanda NV Handels Vereeniging Amsterdam itu, ditandai dengan peresmian "Monumen Tebu Mas" dan peluncuran buku "Seabad Pabrik Gula Ngadiredjo: Menepis Keraguan, Menggapai Keberhasilan".

PG Ngadiredjo salah satu di antara 11 pabrik gula yang dikelola PTPN X. Selain Ngadiredjo, perusahaan perkebunan pelat merah itu juga menempatkan PG Modjopanggoong (Tulungagung) dan PG Pesantren Baru (Kediri), masuk jajaran lima besar nasional pencapaian rendemen terbaik.

Subiyono menjelaskan, sejak dimulainya giling tebu pada 3 Mei hingga 15 September 2012, produksi PG Ngadiredjo sekitar 63.325 ton dengan jumlah tebu digiling sebanyak 751.527 ton.

Produksi gula tersebut dipastikan akan bertambah, karena kegiatan giling dijadwalkan selesai pada November.

"Kami menargetkan PG Ngadiredjo mampu meraih keuntungan sekitar Rp126 miliar pada tahun ini, sementara keuntungan yang dibukukan pada 2011 lebih kurang Rp111,26 miliar," katanya.

Ia mengatakan, salah satu faktor yang membuat kinerja PG Ngadiredjo menggeliat pada 2012 adalah konsistensi dalam penerapan budi daya tanaman tebu.

Pada masa mendatang, katanya, PG Ngadiredjo siap melakukan diversifikasi produk di luar komiditas gula dengan bertransformasi menjadi industri berbasis tebu dan terus menjalankan program efisiensi.

Program diversifikasi yang sudah dirintis sejak tahun lalu adalah pengolahan limbah tebu (ampas) menjadi sumber energi listrik yang bisa digunakan sendiri atau dikomersilkan. Program serupa juga dijalankan di PG Pesantren Baru.

Selain program energi, PTPN X juga sedang menyelesaikan pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 30.000 kiloliter di PG Gempolkrep, Mojokerto, dengan menghabiskan investasi sekitar Rp467,79 miliar.

"Bahan baku tetes tebu untuk produksi bioetanol didapatkan dari pabrik gula yang kita miliki. Mudah-mudahan tahun depan pabrik itu sudah beroperasi," ujar Subiyono.

Administratur PG Ngadiredjo Budi Adi Prabowo mengatakan, pihaknya akan terus melakukan perbaikan "on farm" (pengolahan kebun) dan "off farm" (pabrik) untuk mendukung peningkatkan kinerja.

Khusus masalah rendemen, pihaknya memakai sistem "core sampling" untuk meningkatkan kualitas sistem penilaian dengan menggunakan peralatan "core sampler" seharga lima miliar rupiah.

"Contoh tebu yang masih berada di truk diambil dan selanjutnya dikirim ke Laboratorium Analisa Rendemen PG. Proses ini lebih transparan dan kredibel, sehingga petani semakin percaya dengan pabrik," katanya. (*)