Sejenak melepaskan lelah setelah berkunjung ke Gunung Bromo, ada satu lokasi yang bisa dijadikan referensi bagi wisatawan sebagai destinasi tujuan wisata favorit kedua di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Lokasi itu adalah Air Terjun Madakaripura, yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Lokasi ini, konon menjadi tempat pertapaan terakhir Mahapatih Gajahmada sebelum wafat, meski tidak ada bukti sejarah yang tertinggal di tempat itu, dan hanya keyakinan masyarakat setempat yang menjadi dasar.

Untuk menuju lokasi dari pusat kota Probolinggo membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dengan jarak tempuh sekitar 30 km, sedangkan bila dari kawasan kaki Gunung Bromo yang ada di Probolinggo, hanya berjarak sekitar 5 kilometer.

Meski demikian, sesampainya ditujuan, wisatawan masih memerlukan lagi perjalanan kaki menuju pusat air terjun yang memiliki ketinggian 200 meter, dan perjalanan yang tempuh pun tidak mudah, sebab harus melalui naik turun aliran sungai dengan waktu tempuh kurang lebih selama 30 menit, sebab lokasi pusat air terjun ini seperti lorong perbukitan.

Setelah sampai di pusat air terjun, keindahan sisi kiri dan kanan lokasi ini akan membuat hati tertegun, karena keindahannya jauh berbeda dibanding beberapa air terjun yang ada di Indonesia.

Airnya yang turun berlapis-lapis dan terdiri dari beberapa air terjun membela bukit, membuat perasaan seolah berada di balik lukisan nan-indah, sehingga tidak menyangka bila kita berada dibalik keindahan yang nyata.

Perjuangan berjalan kaki menuju pusat air terjun pun rasanya tidak sia-sia setelah melihat keindahan panorama air terjun Madakaripura, mirip seperti tumpahan air di dalam gelas, dan kita berada di dalamnya.

Bentuk air terjunnya, mirip ceruk yang dikelilingi bukit dengan tetesan air pada setiap bagian tebing seperti layaknya hujan, dan tiga di antaranya mengucur deras membentuk air terjun kembali.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Probolinggo Tutug Edi Utomo mengatakan, lokasi air terjun ini sudah dikenal warga setempat cukup lama.

Namun, mulai dikembangkan sebagai obyek wisata oleh pemerintah daerah sekitar tahun 1990-an, meski kini beberapa jalan setapak menuju pusat air terjun hancur bahkan putus akibat bencana banjir bandang beberapa tahun silam, dan belum diperbaiki.

"Sedikitnya tujuh orang tewas di kawasan air terjun ini. Korban tewas sebagian besar tertimpa material batu dan kayu dari atas. Sebagian lagi karena terpeleset dan hanyut di Kali Laweyan yang bersumber dari air terjun tersebut," ungkapnya.

Sehingga, untuk mengantisipasi bencana serupa terjadi kembali, Pemkab Probolinggo memberlakukan larangan berkunjung pada momen-momen tertentu, seperti musim hujan atau cuaca kurang baik.

Kurang Promosi

Keindahan Air Terjun Madakaripura diakui banyak wisatawan yang datang ke lokasi, dan mayoritas pengakuan itu datang secara tiba-tiba setelah sampai di tujuan.

Satu pengunjung asal Mojokerto, Ridwan menyayangkan kurangnya informasi dan promosi mengenai Madakaripura oleh pemerintah daerah setempat.

Sebab, dia mengaku baru tahu keindahan Air Terjun Madakaripua setelah diajak bersama rombongan wisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

"Saya baru tahu jika lokasi di sini sangat bagus, dan bisa jadi alternanif kunjungan setelah Gunung Bromo, sehingga bisa menjadi satu paket wisata," ucapnya.

Seharusnya, menurut Ridwan, Pemkab Probolinggo tidak hanya melulu mempromosikan Gunung Bromo sebagai wisata favorit, karena apabila terjadi bencana seperti erupsi beberapa tahun lalu, maka sektor pariwisata akan lumpuh, sebab hanya mengandalkan satu lokasi.

"Air Terjun Madakaripura ini perlu dipromosikan secara bersamaan, sehingga bisa menjadi pilihan kedua apabila ada kendala pada wisata Gunung Bromo seperti erupsi kemarin,” tukasnya.

Berdasarkan data Pemkab Probolinggo, jumlah kunjungan wisata ke Madakaripura pun jauh lebih kecil dibandingkan ke Bromo. Sebagai perbandingan pada tahun 2009, Bromo dibanjiri 55.469 wisatawan domestik dan 11.278 wisatawan mancanagera, sedangkan Madakaripura hanya dikunjungi sekitar 1.000 orang per tahun.(*)