Kediri - Kejaksaan Negeri Kediri menahan dua orang tersangka yang diduga terlibat tindak pidana korupsi program bantuan sosial jaring aspirasi masyarakat.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Kediri, Sundaya, Selasa, mengemukakan, penahanan kedua tersangka untuk memudahkan pemeriksaan, karena saat ini pihaknya sedang melengkapi berkas pemeriksaan agar bisa secepatnya diproses dan diajukan ke Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya.

"Sesuai dengan aturan, kami menahannya selama 20 hari. Dalam waktu dekat, kami segera menyempurnakan berkas dakwaan dan bisa mengajukan untuk sidang di Pengadilan Tipikor Surabaya," ungkapnya.

Kedua tersangka masing-masing Endung Hendro Subagyo, mantan dosen di Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri dan Abdullah Yazid, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Uniska Kediri, saat ini dititipkan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Kediri.

Keduanya diduga terlibat tindak korupsi dana hibah dari APBD Provinsi Jawa Timur 2008 dalam program bantuan sosial jaring aspirasi masyarakat yang direkomendasikan oleh seorang anggota DPRD Provinsi Jatim. Diperkirakan, kerugian negara mencapai Rp185 juta dari total anggaran Rp200 juta.

Proyek yang diduga dikorupsi dialokasikan untuk dua program, yaitu penelitian model pengamanan dan pelestarian hutan serta pemberdayaan masyarakat sekitar hutan berupa tanaman pisang yang dikerjakan Januari 2008 lalu. Kasus itu mulai mencuat pada 2011.

Kedua tersangka itu terancam dijerat dengan Pasal 2 dan 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kuasa hukum Abdullah Yazid, Nur Baedah, mengaku sangat menyayangkan keputusan Kejari Kediri yang menahan kliennya dan pihaknya berencana mengajukan penangguhan penahanan, karena selama ini kliennya selalu bersikap kooperatif kepada penyidik.

"Kami menyayangkan jika terjadi penahanan. Selama ini, klien saya kooperatif, tidak melarikan diri, tidak menghilangkan barang bukti. Kami akan ajukan penangguhan," katanya. (*)