Sidoarjo - Sekilas, jalan masuk ke kompleks industri rumahan kerajinan kulit di Sidoarjo ini seperti layaknya jalan raya pada umumnya. Hanya satu palang melintang di pintu masuk jalan sebagai salah satu penunjuk untuk masuk ke lokasi industri rumahan kerajinan kulit terbesar di Indonesia ini.

Namun, setelah masuk sepanjang lima ratus meter, barulah bisa melihat berbagai rumah warga yang disulap menjadi etalase atau ruang pamer barang kerajinan dari kulit asal Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Berjarak sekitar lima kilometer araha selatan dari pusat kota Kabupaten Sidoarjo atau 30 km arah timur Kota Pahlawan (Surabaya), banyak dipamerkan hasil industri rumahan kerajinan kulit seperti tas, koper, jaket, sepatu, sabuk dan juga berbagai asesoris lain yang terbuat dari kulit.

Harga yang ditawarkan pun jauh dari harga rata - rata yang ada di pertokoan dengan kualitas yang sama saat ini.Contohnya jaket berbahan kulit sapi di pertokoan atau pusat perbelanjaan minimal ditawarkan dengan harga satu jutaan rupiah, bahkan lebih, padahal di Tanggulangin kisaran harga hanya Rp700 hingga Rp800 ribu.

Salah seorang pengusaha tas dan koper yang ada di Tanggulangin, M Zainul Lutfie mengatakan, saat ini kondisi pasar sudah jauh lebih baik dibandingankan dengan awal - awal keluarnya semburan Lumpur Lapindo enam tahun silam.

"Saat ini, industri kerajinan kulit yang ada di Tanggulangin Sidoarjo sudah jauh lebih baik dan mulai bangkit, setelah kurang dari enam tahun mengalami penurunan produksi secara besar - besaran," tuturnya.

Ia mengemukakan, peran serta Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk melakukan perbaikan citra para perajin ini memang sangat dibutuhkan untuk mengembalikan imej bahwa industri kulit Tanggulangin ini tidak mati.

Pria yang juga duduk sebagai anggota Dewan Sidoarjo ini mengatakan, saat ini pengunjung yang datang di Tanggulangin untuk berbelanja hasil kerajinan kulit sudah mulai ramai meski kondisinya tidak seramai dulu.

"Dibandingkan dengan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 saat ini pengunjungnya cenderung ada peningkatan, meski jumlahnya masih berkisar puluhan orang setiap harinya," paparnya.

Namun demikian, dirinya yakin jumlah tersebut akan terus meningkat seiring dengan banyaknya aktivitas promosi yang saat ini gencar dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk menggaet para pengunjung datang ke Tanggulangin.

"Salah satunya dengan memasang baliho besar yang berada di depan pintu masuk kawasan Tanggulangin, serta memasang baliho serupa di akses menuju ke Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo," ucapnya.

Selain itu, juga masih ada upaya lain yang juga dilakukan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yaitu senantiasa untuk mengikutkan hasil kerajinan kulit di Tanggulangin pada setiap pameran produk unggulan daerah di tingkat provinsi maupun tingkat nasional.

Ia juga mengakui jika pusat industri kerajinan kuliat yang berada sekitar empat kilometer dari pusat semburan Lumpur Lapindo, sudah terkenal dianggap "hilang" oleh masyarakat di luar Sidoarjo.

Oleh karenanya, sebuah pekerjaan rumah yang berat bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk berjuang keras demi mengembalikan citra yang selama enam tahun terakhir tersebut hilang.

Menanggapi masalah ini, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah dan Enegeri Sumberdaya Mineral, Kabupaten Sidoarjo, Maksum mengatakan, saat ini pihaknya akan terus berjuang untuk mengembalikan pasar industri kerajinan kulit yang ada di Sidoarjo, khususnya yang ada di Tanggulangin.

"Selain dengan mengikutkan hasil kerajinan tersebut pada setiap pameran yang berada di tingkat nasional, juga dilakukan pembinaan terhadap para perajin supaya terus berinovasi guna meningkatkan hasil produksinya," tukasnya.

Pelatihan - pelatihan tersebut dilakukan secara berkelanjutan dengan menghadirkan para pelatih yang profesional di bidangnya masing - masing.

"Dengan harapan, setelah adanya pelatihan tersebut para perajin bisa mengetahui cara dan teknis untuk menghasilkan kerajinan yang baik dan benar serta yang bisa menjual," katanya.

Selain itu, juga masih ada bentuk perhatian lain dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, yakni dengan memberikan bantuan modal bergulir kepada kelompok usaha yang ada di Tanggulangin tersebut.

"Saat ini, bantuan dana bergulir tersebut sudah dilakukan dan hasilnya bisa membantu permodalan para perajin dengan persyaratan yang lebih mudah," katanya.

jalan arteri

Ada sebagian masyarakat, jika akses jalan menuju ke Tanggulangin ini masih jauh terutama untuk menuju ke pusat industri tas dan koper (intako) yang notabenenya merupakan embrio dari pusat kerajinan kulit yang ada di Tanggulangin ini.

Kondisi jalan yang terlalu jauh dari jalan protokol kadang membuat para calon pembeli enggan untuk datang ke lokasi tersebut, terlebih kalau tidak benar - benar meluangkan waktunya untuk datang ke tempat perbelanjaan tersebut.

Oleh karena itu, para perajin mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memanfaatkan Jalan Arteri Porong sebagai salah satu akses masuk ke lokasi industri di Intako tersebut.

Ketua Koperasi Intako, Sihabudin, mengatakan, dengan adanya akses yang mudah dan cepat otomatis akan turut serta membantu para calon pembeli untuk masuk ke lokasi kerajinan kulit di Tanggulangin tersebut.

"Kondisi ini sudah lama kami rasakan, terlebih semenjak adanya semburan lumpur tersebut semakin terasa pada penjualan hasil produksi kami," ucapnya, lirih.

Dirinya menilai, dengan adanya Jalan Arteri yang ada saat ini, para pengunjung bisa dengan mudah untuk menemukan lokasi kerajinan tas dan koper di Sidoarjo tersebut.

"Aksesnya cukup mudah, yakni di sebelah selatan Intako dibuatkan akses jalan yang langsung berhubungan dengan Jalan Arteri Porong. Hanya itu saja," katanya.

Sebagai upaya untuk mendukung keinginan para perajin ini, dirinya bahkan sudah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.

Akan tetapi, masih belum mendapatkan perhatian serius dan bahkan pihaknya mendapatkan alasan kalau Jalan Arteri tersebut merupakan wewenang dari Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).

"Bagi kami, jalan itu milik siapa tidak masalah, asalkan bisa dibuatkan akses ke intako sudah beres. Oleh karena itu, kami ingin niat baik dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk merealisasikan keinginan para perajin demi kelangsungan kerajinan industri kulit di Sidoarjo supaya tetap eksis," ujarnya, berharap.(*)