Pasuruan - Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Pasuruan yang sempat meredup mulai bersinar kembali.

Sebuah pergelaran agung sendratari Surya Majapahit pada Rabu (11/7) malam menjadi pertunjukkan perdana, dan akan terus bisa bisa dinikmati secara rutin pada setiap bulan purnama.

Taman Candra Wilwatikta Pandaan yang sempat mati suri kini mulai kembali menggeliat seiring kebutuhan rekreasi bagi masyarakat Jawa Timur yang terus tumbuh meningkat perekonomian dan kesejahteraannya.

Taman seluas 12,3 hektare yang diyakini sebagai petilasan Majapahit berada di tepi Jalan Raya Tretes Pandaan dibangun pada 28 Oktober 1963 oleh Kolonel M. Wijono, Gubernur Jawa Timur saat itu bersama Mayor M. Said, dan Ibu Dar Mortir.

Visi utamanya untuk menegakkan dan mengembangkan kepribadian budaya nasional serta kepariwisataan dengan semangat gotong royong. Sehingga mempunyai misi untuk menyediakan dan menyelenggarakan sarana dan kegiatan bagi berkembangan budaya nasional dan kepariwisataan secara mandiri.

Sehingga Taman Candra Wilwatikta Pandaan dilengkapi fasilitas Panggung Terbuka yang mampu menampung pengunjung sebanyak 15 ribu orang. Panggung Terbuka ini merupakan satu-satunya di Jawa Timur, dan kedua di Indonesia setelah Prambanan di Klaten.

Jika panggung Terbuka Prambanan menggunakan latar belakang Candi Prambanan, Panggung Terbuka Candra Wilwatikta berlatar belakang Gunung Penanggungan. Keduanya anggun dan megah.

Taman Candra Wilwatikta Pandaan juga dilengkapi fasilitas pendapa (hall) dengan kapasitas 500 orang, ruang rapat R. Wijaya dengan kapasitas 100 orang, ruang pamer, serta villa sebanyak 14 unit, dan paviliun dengan kapasitas 150 orang.

Di Taman Candra Wilwatikta Pandaan juga masih tersedia lahan seluas 5 hektar, untuk lapangan, dan lahan terbuka.

Lokasi Taman Candra Wilwatikta Pandaan juga sangat strategis, berada di tepi Jalan Raya Tretes dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Dengan akses Taman Safari Indonesia, Candi Jawi, Tretes, Trawas, dan pemandian Jolotundo maupujn beberapa lokasi pembudi daya anggrek.

Sesuai visi dan misi utamanya untuk mengembangkan kepribadian budaya nasional, Taman Candra Wikwatikta Pandaan tak pernah sepi dari kegiatan seni dan kebudayaan. Bahkan di Panggung Terbuka Candra Wilwatikta Pandaan ini juga pernah digelar Sendratari Ramayana Internasional.

Sejak pentas terbuka tersebut Sinar Majapahit sempat mendunia sekaligus mengangkat nama Pandaan melebihi nama Jawa Timur. Sayang, Sendratari Ramayana Internasional yang digelar pada 1971, itu merupakan untuk pertama kali dan terakhir.

Seiring dengan perjalanan waktu, Taman Candra Wilwatikta Pandaan terus meredup. Kondisi fisik bangunan serta fasilitas lainnya memprihatinkan, karena sejak awal dibangun hingga kini tidak pernah mendapat perbaikan memadai.

Kepala Bagian Operasional Taman Candra Wilwatikta Pandaan, Kushartadi mengatakan, Taman Candra Wilwatikta Pandaan masih banyak diminati sebagai tempat berbagai acara pertemuan maupun pendidikan. Namun, biaya yang diterima pengelola tidak pernah mampu untuk membayar biaya operasional, apalagi untuk biaya perawatan fasilitas.

Meski Taman Candra Wilwatikta Pandaan dalam kondisi merugi, kata Kushartadi, masih saja tetap bertahan ketika yayasan masih dipegang M. Said, karena kekurangan biaya ditanggung secara pribadi.

Kondisi tersebut masih terus tetap bertahan hingga Kepala Bagian Operasional Taman Candra Wilwatikta dipegang Sutojo Sukomihardjo, pengelola Radio Suara Surabaya. Namun, ketahanan tersebut juga karena Sutojo Sukomiharjo yang tetap melanjutkan tradisi M. Said yang sering menutup kerugian secara pribadi.

Namun, setelah Ketua Yayasan Taman Candra Wilwatikta Pandaan kini dipegang Warih Prabowo, kondisinya semakin memprihatinkan. Taman Candra Wilwatikta Pandaan bagaikan mati suri.

Melihat kondisi Taman Candra Wilwatikta Pandaan yang semakin meredup, Gubernur Jawa Timur Soekarwo merasa prihatin. Untuk itu ia mengambil langkah solusi. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengambil alih pengelolaan dengan terlebih dulu merevitalisasi Taman Cahndra Wilkwatikta Pandaan, serta memfungsikan kembali sebagai Pusat Kesenian dan Kebudaayaan Jawa Timur.

Gagasan tersebut gayut dengan program Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang tengah melaksanakan program Revitalisasi Kampung Majapahit di Trowulan, Mojokerto yang ditargetkan tahun 2013 harus suda selesai.

Revitalisasi Taman Candra Wilwatikta Pandaan diharapkan mampu mengembalikan fungsinya sebagai Pusat Kesenian dan Kebudayaan Jawa Timur. Gagasan merevitalisasi Taman Candra Wilkwatikta Pandaan juga atas pertimbangan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang semakin maju setara DKI Jakarta.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang maju semakin pesat juga perlu diimbangi dengan apresiasi terhadap seni dan budaya, sehingga kesejahteraan juga mampu menciptakan manusia-manusia yang berbudaya serta estetis dalam kehidupannya.

Revitalisasi Taman Candra Wilwatikta Pandaan juga tetap melibatkan dengan pihak pengelolanya. Revitalisasi meliputi pembenahan panggung terbuka, rehabilitasi pendapa, gedung pertemuan, serta penginapan.

Fasilitas yang telah ada, juga akan dilengkapi dengan galery, lapangan tenis, kolam renang, dan tempat main anak-anak. Taman Candra Wilwatikta nantinya juga akan dijadikan sebagai tempat pelatihan seni tari.

Sehingga nantinya di Taman Candra Wiklwatikta Pandaan akan diagendakan kembali pentas seni secara periodik, atau secara paket yang siap untuk menyambut setiap kedatangan tamu. Juga akan dikembangkan olahraga panahan, baik prestasi maupun tradisional.

Taman Candra Wilwatikta Pandaan kini mulai bersinar kembali. Malam lalu (Rabu, 11/7) sebuah pergelaran agung Sendratari Surya Majapahit menjadi pergelaran perdana dalam upaya merevitalisasi panggung terbuka termegah di Jawa Timur.

Para perwakilan peserta Temu Karya Taman Budaya dari seluruh Indonesia bersama ribuan penonton telah menjadi saksi.(*)