Blitar - Sampah setiap tahun menjadi permasalahan yang cukup serius di Indonesia, bukannya habis justru selalu bertambah. Hal itu tentunya lumrah terjadi, karena kebutuhan setiap hari juga bertambah, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Di Kabupaten Blitar, sampah juga menjadi masalah yang membuat panik. Bagaimana tidak, ada sekitar 96.564,522 meter kubik per bulan sampah dihasilkan. Kebanyakan, sampah itu adalah limbah rumah tangga maupun sampah dari pasar, baik dari bahan baku plastik maupun organik.

Penanganan sampah organik, biasanya akan lebih mudah dan bisa menjadi kompos, namun untuk sampah plastik, memerlukan penanganan khusus. Terlebih lagi, terdapat aturan yang melarang untuk membakar sampah plastik di lokasi tempat pembuangan sampah (TPA).

Berbekal dari merasa prihatinnya masalah sampah ini, Anim Kartono (32) warga Desa/Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tergerak hatinya. Ia dengan sejumlah rekannya berusaha membuat alat guna mengolah sampah terutama yang terbuat dari limbah plastik.

"Sampah organik bisa membusuk, tapi untuk yang nonorganik sulit. Kalau membakar plastik ada larangan karena bisa membuat pencemaran udara," ucapnya.

Sebagai masyarakat yang peduli, ia dengan rekannya berusaha membuat alat alternatif yang bisa mengurangi volume sampah sekaligus mengolahnya. Beberapa penelitian sebelumnya diketahui, jika sampah bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, bahkan ada kemungkinan jika sampah plastik bisa diolah jadi bahan bakar alternatif.

Ia dengan rekannya, di antaranya Ochtadi berusaha menciptakan alat untuk mengolah sampah tersebut. Berbekal kenekatan, percobaan ia lakukan di rumahnya. Awalnya, uji coba memanfaatkan dandang, yang biasa untuk memasak, lalu drum, sampai besi pelat.

"Saya sampai gunakan dandang milik mertua. Ada sekitar 10 dandang yang sudah saya rusakkan untuk buat alat itu," katanya, tersenyum.

Lapisan dandang, tutur dia, terlalu tipis dan tidak kuat ketika dilakukan uji coba pembakaran satu hari, drum bertahan dua hari, dan besi pelat bertahan sampai satu bulan.

Berbekal dari berbagai macam penelitian yang ia lakukan serta pengetahuan tentang proses pengelolaan sampah, akhirnya ia dengan rekannya berhasil menciptakan alat pengolah sampah. Bukan hanya jadi pupuk, tapi nyatanya bisa menjadi BBM alternatif yang dihasilkan dari limbah plastik.

Pria lulusan dari Fakultas Teknik Industri Istitut Teknologi Bandung (ITB) itu menyebut saat ini alat itu sudah dipakai di tempat pembuangan akhir (TPA) Tegalasri, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar dan sudah mulai produksi.

Terdapat dua pengolahan yaitu untuk pengolahan sampah organik yang dilakukan setelah ada proses pemilahan dan pengolahan limbah plastik. Untuk organik, sampah-sampah itu dilakukan fermentasi menggunakan bakteri EM4 atau sejenisnya guna menumbuhkan bakteri pengurai sampah agar menjadi kompos.

Namun, untuk pengolahan sampah dari plastik berbeda. Awalnya, dilakukan pemisahan antara sampah plastik dan nonplastik, seperti besi, kaca, maupun kaleng bekas. Bahan-bahan nonplastik disingkirkan, karena tidak dilakukan pengolahan.

Sampah plastik lalu diangkut dengan mesin konveyor, dibersihkan menggunakan alat pembersih lalu dikeringkan menggunakan alat pengering sampah. Setelah kering, dilakukan pengepakan atau pengepresan guna memudahkan ke tungku pemanas atau reaktor.

Di reaktor itu, dilakukan pemanasan dengan suhu sekitar 300 derajat Celsius menggunakan arang sisa pembakaran plastik sebelumnya sekitar empat jam sampai menghasilkan minyak mentah atau yang akrab disebut sebagai "crude oil".

Anim menuturkan sampah plastik memang bisa diolah menjadi minyak. Hal itu disebabkan, plastik terbuat dari minyak bumi. Unsur plastik sama persis dengan unsur minyak bumi yaitu Hydrokarbon, yaitu senyawa yang terdiri dari Hydrogen dan Karbon. Hanya saja plastik sudah melalui proses tertentu senyawa plastik berpolimer membentuk unsur yang mudah dibentuk sesuai dengan keinginan.

"Setelah diolah bisa jadi bermacam-macam bahan bakar alternatif, serupa premium, petramax, minyak tanah, sampai elpiji," ucap pria asli Brebes, Jawa Tengah ini.

Menurut Anim, alat hasil rakitan sendiri ini telah dioperasionalkan di TPA Tegalasri, Kecamatan Wlingi, akhir 2011 dan diresmikan Februari 2012. Di lokasi tersebut, tidak kurang ada sekitar 146,310 meter kubik per hari dikirim ke TPA.

Padahal, kapasitas di TPA yang luasnya sekitar 1,2 hektare tersebut sudah hampir penuh. Volume sampah di TPA yang beroperasi sejak 1994 lalu itu selalu bertambah.

Sebenarnya, di lokasi tersebut, sudah diupayakan untuk pengurangan volume sampah menggunakan sistem "open damping" atau diratakan saja. Jika di satu titik sudah penuh, akan pindah ke titik lain. Namun, sampah bukan berkurang, melainkan terus bertambah. Saat ini pun, di lokasi TPA itu sudah penuh sampah. Jurang yang digunakan sebagai lokasi pembuangan sampah hampir penuh.

Dengan adanya alat hasil pengolah sampah itu, cukup efektif. Satu truk sampah mampu mengangkut sekitar 7 ton baik sampah organik maupun nonorganik. Setelah dilakukan proses pemisahan sampai pembakaran tersebut, diketahui mampu menghasilkan 6 ton organik dan 1 ton plastik yang sudah berubah menjadi "crude oil" atau minyak mentah.

"Tidak berkurang banyak dari sampah yang diangkut. Hasilnya, bisa dimanfaatkan," ucapnya.

Untuk saat ini, lanjut dia, BBM alternatif itu telah dibuat beberapa produk di antaranya seperti premium, solar, sampai minyak tanah. Ia pun merelakan sepeda motornya untuk uji coba, dan tidak ada kerusakan mesin.

Tekan Ongkos Operasional

Pascaalat itu beroperasional, seluruh kebutuhan BBM di TPA itu tidak perlu membeli. Seluruh mesin sudah ganti bahan bakar, dari awalnya menggunakan solar diganti hasil olahan BBM alternatif itu.

Hal itu cukup menekan kebutuhan operasional. Biasanya, selama operasional 24 jam, membutuhkan sekitar 9,8 liter solar, di mana harga saat ini adalah Rp4.500 per liter, sementara dengan BBM produksi sendiri hanya memerlukan sekitar 10 liter saja dan tidak memerlukan biaya pembelian lagi.

Begitu juga dengan truk pengakut sampah maupun kendaraan roda tiga seperti Tossa, di mana bahan bakar juga tidak lagi membeli. Masyarakat sekitar pun sudah mulai memanfaatkan bahan bakar itu, sebagai pengganti minyak tanah. Saat ini, subsidi minyak tanah sudah dicabut membuat harganya nisbi mahal sekitar Rp11 ribu per liter. Namun, dengan minyak itu hanya dijual seharga Rp8.000 saja.

Demikian juga untuk sepeda motor, ukuran normal premium, 1 liter untuk 40 kilometer, dengan BBM alternatif ini 1 liter mampu menempuh jarak sekitar 38 kilometer.

Kepala Sub Bidang Komunikasi Lingkungan dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar, M Agus Zubaidi mengaku pemerintah sangat mengapresiasi dengan alat yang dibuat tersebut. Terlebih lagi, selain bisa mengurangi volume sampah, ternyata alat itu juga bermanfaat memproduksi BBM alternatif dan ramah lingkungan.

Saat ini, pemerintah berupaya untuk membuat inovasi dengan pengelolaan sampah secara terpadu, yaitu dengan menumbuhkan sistem pengelolaan sampah dengan prinsip 3R, serta dengan mengembangkan konsep Bank Sampah.

Selain itu, saat ini sudah mulai ada pengelolaan yang dilakukan sejak awal, yaitu pemilahan sampah mulai dari sumbernya dari dapur, dengan menempatkan kantong plastik berwarna hitam dan merah. Kantong berwarna hitam digunakan untuk sampah plastik dan yang berwarna merah untuk sampah organik.

"Sampah organik diupayakan diolah secara mandiri menjadi kompos oleh masing-masing rumah tangga dan pengolahan secara komunal dengan komposter. Ini yang saat ini sedang kami rancang," paparnya.

Pihaknya mengklaim dengan adanya alat tersebut selain membantu mengurangi volume sampah, juga memberi lapangan kerja pada masyarakat sekitar. Mereka bisa bekerja membantu mengoperasionalkan mesin maupun pemisahan sampah.

"Ini bisa membuka lapangan pekerjaan sekaligus mengurangi volume sampah. Jika sampah datang lalu bisa langsung diolah yang berarti tidak ada tumpukan sampah lagi," ujarnya.

Kedepannya, tambah dia, akan dibuat alat dengan kapasitas lebih kecil daripada alat yang ada di TPA Tegalasri. Jika di TPA tersebut, kapasitasnya sehari sampai 50 ton, dengan alat yang akan dibuat baru ini, kapasitasnya lebih kecil, hanya setengahnya saja.

Ia juga mengatakan, memang sampai saat ini mesin tersebut masih ditempatkan di TPA Tegalasri. Diharapkan nantinya, TPA lainnya seperti di TPA Srengat, Sutojayan, Kademangan, Kesamben, sampai Sutojayan, juga ada alat serupa. Kapasitas penampungan sampah di tempat itu juga terbatas, sementara jumlah sampah setiap hari bertambah.

Saat ini pemerintah berupaya mengajukan uji coba laboratorium tentang kandungan di BBM alternatif itu. Surat itu diajukan ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak Bumi dan Gas (Lemigas) Jakarta di bawah Kementerian ESDM, dan diperkirakan enam bulan hasil uji laboratorium itu sudah selesai.

Walaupun hasil uji laboratorium belum keluar, ternyata sudah ada sejumlah daerah yang mengaku tertarik dengan alat tersebut. Beberapa daerah seperti dari Mojokerto, Cilacap dan Kebumen, Jateng, datang untuk melihat langsung. Mereka merasa tertarik dengan rancangan alat untuk membuat BBM alternatif itu. Jika harus beli pun, harganya sangat mahal.

Di Jepang, ada alat serupa dan baru saja diresmikan, tapi harganya sangat mahal. Untuk mengolah 1 kilogram sampah memerlukan anggaran Rp100 juta membeli alat itu. Tapi, dengan alat pengolahan sampah yang dibuat sendiri itu, anggaran yang dihabiskan tidak sampai Rp100 juta dengan kapasitas 50 ton sampah.

Agus berharap, adanya alat berupa instalasi pengolahan sampah plastik tersebut menjadi solusi dan mengurangi pencemaran lingkungan yang banyak dikeluhkan warga sekitar diakibatkan penumpukan sampah tersebut.

Selain itu, dengan pengelolaan sampah tersebut juga mempunyai nilai jual, karena sampah organik diubah menjadi kompos dan sampah plastik yang diubah menjadi BBM alternatif, harganya juga nisbi lebih murah.

Diharapkan juga, tingkat kesadaran masyarakat semakin tinggi untuk mengelola sampah. Masyarakat diharapkan lebih peduli untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak membuang sampah, terutama plastik sembarangan. Lebih baik, sampah plastik itu dikumpulkan, dan bisa diolah untuk dijadikan sebagai BBM alternatif.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Blitar Ahmad Tamim mengatakan pemerintah harus segera bertindak dengan adanya penemuan baru itu. Dengan itu, tentunya bisa sangat bermanfaat dan bisa mengurangi ongkos operasional, terutama BBM.

"Bisa dilakukan subsidi silang untuk pengelolaan. Biaya operasional bisa ditekan, karena hasil olahan plastik bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar," tukas pria yang berangkat dari PKB ini.(*)