Pada umumnya perkembangan bisnis kuliner terkendala saat menghadapi kekurangan tenaga kerja, karena sekalipun peralatan penunjang sudah siap tersedia, tapi tidak didukung ketersediaan dan kemampuan tenaga kerja, sulit bisa eksis.

Banyak orang berpendapat bahwa gampang mencari tenaga kerja kasar maupun terampil bila cocok gaji yang disepakati. Namun, kenyataannya tidak semudah membalik telapak tangan. Masih sering kita temui bisnis kuliner yang tidak ditata dengan manajemen usaha yang rapi menghadapi kesulitan atas ketersediaan tenaga kerja.

Menurut Ery Afriyanto, pengusaha muda yang menggeluti usaha Nasi Pecel di kawasan Cibubur, Jakarta, mengelola bisnis kuliner sekalipun dengan sistem kekeluargaan, tetap harus menerapkan manajemen keterbukaan dalam soal keuangan.

Terbukti manajemen yang ia terapkan dalam keterbukaan omzet bisnis membuat karyawannya setia, bahkan antre untuk bisa bergabung dalam usaha yang cukup menjanjikan itu.

Dengan berbekal alat seadanya, yang ia bawa dari kampung halaman, di salah satu desa di Kota Malang, Ery yang akrab dipanggil Anang (anak lanang/pria-red), dan beberapa warga dari desa tersebut, bertekad menyewa sebidang lahan milik sebuah masjid yang ada di kawasan Cibubur itu.

Ia bersama "arek2" desa membuka warung pecel resep dari ibunya sendiri. "Di luar dugaan, minat masyarakat Jakarta cukup tinggi dengan masakan pecel yang kami sajikan," ucap Ery yang kini membawai 20 karyawan itu.

Ery yang alumnus diploma perhotelan di Jawa Timur, itu menerapkan sistem keterbukaan dalam urusan gaji karyawan. "Mereka tahu berapa besar perolehan warung dalam sehari. Selain mendapat gaji pokok, para karyawan mendapat bonus dari setiap batas pemasukan yang diperoleh warung dalam sehari," paparnya.

Ia mengatakan, para karyawannya juga mendapat kesempatan untuk bergantian menikmati malam minggu di Jakarta. Bahkan ia juga tidak segan-segan memberi kesempatan apabila ada karyawannya yang ingin mengembangkan bisnis nasi pecel di daerah lain, tapi dengan catatan resep bumbu masih menjadi hak ciptanya.

"Kami menerapkan sistem jenjang karier bagi semua karyawan agar mereka mempunyai harapan untuk hidup mapan, seperti yang kami sampaikan saat awal mengajak mereka untuk bekerja di Jakarta," tutur Ery yang telah menekuni bisnis tersebut sejak enam tahun lalu itu.

Kini bisnis nasi pecel yang sudah mulai dilengkapi dengan beberapa jenis lauk khas Jawa Timur, seperti rujak cingur, sayur lodeh, aneka ragam gorengan dan minuman segar beras kencur, laris manis dikunjungi warga Jakarta dan sekitarnya.

"Saling keterbukaan, jujur dan bekerja sama menjadi kunci agar bisnis tetap langgeng," demikian Ery Ariyanto.(*)