Madiun - Bibit jati yang dikembangkan dengan teknologi persemaian stek pucuk telah menjadi andalan Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun untuk mendukung proses pembibitan dan penanaman di wilayah hutan setempat.

"Pembibitan jati dengan teknologi stek pucuk ini telah dikembangkan di KPH Madiun sejak tahun 2008 dan hasil bibitnya telah ditanam pada penanaman jati atau reboisasi tahun 2009 hingga saat ini," ujar Wakil Administratur KPH Madiun, Bambang Cahyo Purnomo, kepada wartawan, Kamis.

Menurut dia, bibit jati yang diperoleh dengan teknologi stek pucuk atau vegetatif lebih unggul jika dibandingkan dengan bibit jati yang berasal dari biji atau generatif. Keunggulan tersebut antara lain, akan diperoleh bibit jati yang 100 persen sama dengan sifat atau keunggulan induknya.

"Sedangkan bibit secara biji belum tentu diperoleh 100 persen sifat keunggulan dari induk. Selain itu, masa panen pohon juga lebih singkat. Yakni dengan sistem stek pucuk hanya memerlukan waktu 20 tahun, sedangkan dengan sistem biji diperlukan waktu panen hingga 50 tahun lebih," terang dia.

Keunggulan-keunggulan tersebut, lanjutnya, disebabkan karena bibit dari teknologi stek pucuk diambil dari pohon indukan jati yang unggul. Sehingga, otomatis tegakan yang diperoleh juga merupakan pohon jati yang bagus.

Kasi Pengembangan Sumber Daya Hutan KPH Madiun, Suliyanto, menambahkan, KPH Madiun saat ini telah memiliki kebun pangkas persemaian jati dengan teknologi stek pucuk seluas 1 hektare dengan jumlah pohon indukan mencapai 10.000 pohon.

"Kebun atau lahan pengembangan tersebut terletak di BKPH Dungus, yang ada di Desa Kresek, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Adapun, jumlah produksi bibit dari lahan tersebut mencapai sekitar 1,8 juta bibit per tahun," kata dia. (*)