Surabaya - Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) Jawa Timur bersama Forum Intelektual Surabaya (FIS) telah mengusulkan kepada pemerintah agar upacara Hari Pahlawan dilaksanakan di Surabaya.

"Peringatan Hari Pahlawan itu selalu dilaksanakan di lokasi kejadian, seperti upacara peringatan Perang Dunia di Normandia," kata Ketua MSI Jatim Prof Dr H Aminuddin Kasdi MS kepada ANTARA di Surabaya, Minggu.

Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengemukakan hal itu menanggapi usulan dari masyarakat yang meminta peringatan Hari Pahlawan dilaksanakan di Surabaya.

Sebelumnya (22/10/2011), Rais Syuriah PCNU Surabaya KH Dzulhilmi Ghazalie meminta bantuan PBNU untuk memperjuangkan peringatan Hari Pahlawan dilaksanakan di Kota Surabaya.

Selain itu, PCNU juga mengusulkan Gedung PCNU diakui sebagai Monumen Nasional Resolusi Jihad, sebab Hari Pahlawan itu bersumber dari resolusi yang digagas para ulama dan dipimpin Bung Tomo. "Karena itu, materi Resolusi Jihad juga harus dimasukkan ke dalam buku pelajaran sekolah," katanya.

Menurut Prof Aminuddin Kasdi, peringatan Hari Pahlawan di lokasi kejadian merupakan penghargaan terhadap perjuangan para pahlawan, sekaligus penghargaan kepada arek-arek Surabaya yang berjuang untuk negaranya.

"Tapi, pemerintah provinsi harus segera merespons usulan masyarakatmelalui usulan resmi kepada pemerintah pusat, tentu usulan itu harus disertai dengan kesanggupan bila upacara betul-betul di Surabaya," katanya.

Tentang pro-kontra tewasnya pimpinan Tentara Sekutu Jenderal Mallaby dalam Pertempuran 10 November 1945, ia menyatakan ajudan Mallaby, Kapten Smith, mengatakan dia melihat ada segerombolan arek Surabaya yang akan menyerang atasanya.

"Lalu, Kapten Smith melempar granat, maka atasannya itu pun tewas, apakah atasannya itu tewas karena granat yang dilempar atau karena ulah segerombolan arek Surabaya itu, maka yang pasti atasannya tewas di Surabaya," paparnya.

Secara terpisah, Ketua Umum Yayasan Tentara Pelajar Pembela Tanah (Peta) Titon Suprapto juga setuju dengan usulan masyarakat dan kalangan akademisi di Jatim terkait Hari Pahlawan di Surabaya itu.

"Saya mendukung, karena upacara Hari Pahlawan memang harus dilaksanakan di lokasi pertempuran, namun kegiatan lain yang bukan seremonial bisa saja dilaksanakan di Jakarta dan tempat lain," tukasnya.

Hal senada juga diungkapkan cucu HR Mohamad, Indroyono Susilo. "Saya harapkan usulan itu harus diperjuangkan ke pemerintah pusat," kata Indroyono yang juga Sekretaris Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat itu. (*)