Minggu, 19 November 2017

Agus Condro Blak-Blakan Bicara Korupsi di DPR

id jember, berita, antarajatim, agus, condro, senayan, bicara, blak-blakan, korupsi,
Agus Condro Blak-Blakan Bicara Korupsi di DPR
Jember - Hampir setiap tahun, selalu ada anggota DPR yang terjerat kasus korupsi, bahkan berita kasus korupsi yang menjerat para politisi di Senayan itu masih menjadi "headline" media massa di tahun 2012.

Transparency Internasional Indonesia (TII) pernah meluncurkan survei yang menempatkan lembaga legislatif merupakan lembaga terkorup di Indonesia dan satu persatu anggota dan mantan anggota DPR harus mendekam di "hotel prodeo".

Agus Condro, mantan anggota DPR yang juga mantan terpidana kasus korupsi cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia tahun 2004 secara blak-blakan mengakui bahwa di Senayan sarat dengan praktik korupsi.

Menurut dia, anggota DPR itu memiliki tiga fungsi yakni legislasi, pengawasan atau kontrol, dan fungsi anggaran (budgeting), namun tugas dan wewenang itu terkadang disalahgunakan oleh anggota DPR.

"Kekuasaan itu cenderung korupsi, sekecil apapun kekuasaan yang dimiliki politisi di Senayan kadang-kadang diselewengkan juga, sehingga kontrol publik harus kuat," tuturnya saat menjadi pembicara dalam acara diskusi publik yang berjudul "Disorientasi Partai Politik dan Libido Kekuasaan" di Universitas Jember, Rabu (14/3).

Mantan politikus PDI Perjuangan itu mengungkapkan bahwa ada calo anggaran pada saat anggota DPR melaksanakan fungsi anggaran, namun ia enggan menyebut berapa banyak calo anggaran yang berkeliaran di Senayan.

"Tentu ada anggota dewan yang jadi calo anggaran untuk menambah kekayaan pribadi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah menetapkan Wa Ode Nurhayati sebagai tersangka dalam permainan mafia anggaran di DPR," katanya.

Pada saat menjalankan fungsi legislasi, kata dia, politisi di Senayan tentu bermain dengan sejumlah pemodal, agar memasukan pasal-pasal yang bisa menguntungkan bisnis pemodal yang bersangkutan dan terjadilah jual-beli pasal undang-undang.

"Fungsi pengawasan pun tidak lepas dari praktik korupsi karena pihak-pihak yang diawasi oleh DPR terkadang memberikan uang suap, agar anggota dewan bungkam dan tidak terlalu banyak mengkritik pihak yang diawasi," ucap mantan anggota DPR kelahiran Batang itu.

Ketiga fungsi yang melekat dalam lembaga legislatif tersebut menjadi celah bagi politisi di Senayan untuk mengeruk uang rakyat sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara dan anggota DPR berkontribusi besar dalam memunculkan dugaan korupsi ataupun pemborosan anggaran.

Sudah menjadi rahasia publik, dalam proses pembahasan anggaran yang terkait dengan pengadaan barang/jasa atau proyek pembangunan, selalu muncul dugaan adanya pembagian fee di awal, jika proyek yang diminta oleh pihak tertentu diakomodasi dalam APBN.

Seperti kasus Wisma Atlet yang menjerat mantan Bendahara DPP Partai Demokrat, Nazaruddin, yang juga mengungkap keterlibatan anggota DPR lainnya Angelina Sondakh yang telah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK beberapa waktu yang lalu.

"Perilaku korupsi anggota dewan semua berawal dari partai yang memberangkatkan calon legislator itu. Kalau partainya sudah baik, tidak mungkin kadernya akan berbuat tidak baik. Kuncinya ada di partai politik," tegasnya.

Memang sulit untuk mengelak kalau disimpulkan bahwa episentrum korupsi ada di Senayan dan partai politik yang harus membenani perilaku dan tabiat buruk politisi yang sudah jauh dari harapan sebagai wakil rakyat itu.

Editor: FAROCHA


COPYRIGHT © ANTARA 2012

Baca Juga

Generated in 0.3692 seconds memory usage: 0.58 MB