Surabaya - PT Jamsostek mulai mengintensifkan program pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) kepada perusahaan dan pekerja yang menjadi peserta sebagai salah satu upaya meminimalisasi angka kecelakaan kerja.

Direktur Pelayanan PT Jamsostek Joko Sungkono ketika dihubungi di Surabaya, Minggu, menjelaskan, untuk pelatihan K3 tersebut, pihaknya menggandeng PT Surveyor Indonesia dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

"Pelatihan ini dilaksanakan secara bertahap oleh delapan kantor wilayah Jamsostek. Program ini sebagai tindak lanjut pemberian manfaat tambahan untuk peserta yang salah satunya mengenai pelatihan dan pemberian peralatan K3," katanya.

Ia menjelaskan, pelatihan K3 diberikan kepada perusahaan yang tertinggi dalam mengajukan klaim Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) atau perusahaan yang tidak pernah mengajukan klaim JKK.

Sedangkan bantuan peralatan K3 diberikan kepada perusahaan jasa konstruksi yang tertib mendaftarkan proyeknya ke Jamsostek dan telah membayar iuran.

"Nilai proyek yang dikerjakan minimal Rp200 juta dan jangka waktu pengerjaan tiga bulan," ujar Joko Sungkono.

Menurut ia, angka kecelakaan pada perusahaan peserta Jamsostek cenderung meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir, menyusul makin bertambahnya jumlah peserta yang terdaftar.

Data terakhir pada 2011 tercatat sebanyak 99.491 kasus kecelakaan kerja atau rata-rata 414 kasus per hari, dengan pembayaran jaminan mencapai Rp504 miliar.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding angka kecelakaan kerja pada 2010 yang tercatat 98.711 kasus dengan pembayaran klaim jaminan Rp401,2 miliar.

Sementara angka kecelakaan kerja di perusahaan peserta Jamsostek selama periode 2007-2009 dan jumlah klaimnya, secara berurutan adalah 83.714 kasus (Rp219,7 miliar), 94.736 kasus (Rp297,9 miliar), dan 96.314 kasus (Rp328,5 miliar).

"Pemberian pelatihan K3 merupakan salah satu wujud kepedulian Jamsostek untuk ikut meminimalisasi angka kecelakaan kerja," kata Joko Sungkono menambahkan.(*)