Surabaya - Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi krisis ekonomi global tak mempengaruhi pengeluaran masyarakat di Jawa Timur selama triwulan I tahun 2012 karena harga beragam barang dan jasa stabil pada periode itu.

"Krisis ekonomi global baik yang dihadapi beberapa negara di Benua Eropa dan Amerika adalah faktor eksternal bagi masyarakat Jatim sehingga tingkat optimisme mereka tetap tinggi terhadap perekonomian Jatim," kata Kepala BPS Jatim, Irlan Indrocahyo, ditemui di Surabaya, Senin.

Dengan kondisi tersebut, proyeksi dia, Indeks Tendensi Konsumen (ITK) di Jatim pada triwulan I/2012 mencapai 107,78. Estimasi itu menempati peringkat kelima di bawah DKI Jakarta yang mencapai posisi tertinggi (110,68).

"Lalu, peringkat selanjutnya Jawa Barat dengan ITK mencapai 109,66, Jawa Tengah 108,92, dan Daerah Istimewa Yogyakarta 108,46," ujarnya.

Ia menilai, perkiraan ITK triwulan I/2012 tidak terlalu optimistis seperti selama triwulan IV/2011 sebesar 108,42. Walau demikian, dari enam provinsi di Jawa pencapaian ITK Jatim pada triwulan IV/2011 menempati peringkat keempat setelah DKI Jakarta (111,27).

"Posisi berikutnya pada triwulan IV/2011 Daerah Istimewa Yogyakarta 110,02 dan Banten 108,96," katanya.

Di sisi lain, tambah dia, ITK Jatim selama triwulan I/2012 diyakini agak tertekan oleh isu yang kembali bergulir yakni kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) premium.

"Apalagi, gejolak ekonomi tersebut dapat menahan laju konsumsi rumah tangga yang berpeluang besar berlaku dalam waktu dekat," katanya.

Bahkan, lanjut dia, diperkirakan ITK Jatim selama triwulan I/2012 dipengaruhi oleh komponen pendapatan rumah tangga mendatang sebesar 108,11 dan rencana pembelian barang tahan lama 107,09.

"Kalau melihat pergerakan tahun 2011, ITK Jatim pada triwulan I/2011 mencapai 102,58, triwulan II/2011 meningkat menjadi 107,33, triwulan III/2011 sebesar 110,55, dan triwulan IV/2011 turun menjadi 108,42," katanya.(*)