Jember - Aksi teatrikal yang dilakukan sejumlah aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang memrotes tindakan sewenang-wenang anggota Polri nyaris dibubarkan oleh aparat kepolisian di halaman polres setempat, Rabu.

"Kami hanya ingin melakukan aksi teatrikal dengan menyiram cat merah di tubuh salah satu aktivis GMNI sebagai simbol keprihatinan terhadap penegakan hukum di Jember, namun aksi itu dihalangi," kata koordinator aksi, Fian Hendra Legowo.

Belasan aktivis GMNI Jember berunjuk rasa untuk memrotes tindakan sewenang-wenang oknum polisi yang melakukan penangkapan seorang warga.

Mereka melakukan "longmarch" dari Jalan Halmahera menuju bundaran DPRD Jember, kemudian dilanjutkan di halaman Polres Jember dengan melakukan orasi dan teatrikal, serta mengakhiri aksinya di Pengadilan Negeri setempat.

Aksi teatrikal dengan menyiram cat merah tersebut ditentang sejumlah aparat kepolisian karena mengganggu arus lalu lintas dan mengotori jalan, namun belasan aktivis GMNI tetap nekat dan membuat barikade untuk melanjutkan aksi teatrikal tersebut.

Fian menilai, polisi telah bertindak sewenang-wenang saat menangkap Rahmatullah yang diduga sebagai tersangka pencurian dengan kekerasan dan polisi tidak melakukan prosedur yang benar.

"Rahmatullah bukan pelaku perampokan dan pemerkosaan karena pada saat kejadian perampokan, dia sedang tidur di rumah orang tua angkatnya," tuturnya.

Ia juga menyayangkan tindakan oknum polisi yang menembak Rahmatullah dari jarak dekat, padahal yang bersangkutan tidak melarikan diri dan tidak melakukan perampokan di rumah Ferawati, warga Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember pada 9 Juli 2010.

"Rahmatullah menjadi korban salah tangkap yang ditembak oleh polisi karena tindakan aparat kepolisian yang sewenang-wenang terhadap warga," paparnya.

Belasan aktivis GMNI Jember tersebut sudah dua kali melakukan unjuk rasa di Polres dan Pengadilan Negeri Jember dengan tuntutan yang sama, yakni mendesak Polri menindak tegas oknum yang melakukan penembakan dan melakukan uji forensik terhadap luka tembak Rahmatullah, namun aksi tersebut tidak mendapat tanggapan dari kedua lembaga penegak hukum tersebut.

Sementara Kabag Humas Polres Jember, AKP Bangun Witjara, mengatakan penangkapan Rahmatullah sebagai tersangka kasus perampokan sudah sesuai dengan prosedur dan penangkapan itu berdasarkan keterangan tersangka lainnya yang sudah tertangkap lebih dulu.

"Polisi boleh menembak tersangka, apabila yang bersangkutan membahayakan keselamatan polisi dan tersangka berusaha melarikan diri," kilahnya.

Saat ini, kata dia, kasus pencurian dengan kekerasan tersebut sudah masuk tahap persidangan di Pengadilan Negeri Jember, sehingga yang memiliki kewenangan memberikan vonis salah atau tidak adalah majelis hakim.(*)