Surabaya - Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa mengaku siap menjadi calon Gubernur Jatim 2014-2019 dengan catatan.

"Catatannya, saya harus melihat posisi dan peta di Jatim beberapa masa terakhir dan seiring perjalanan waktu menuju pemilihan gubernur," ujar Khofifah ketika ditemui di Fakultas FISIP Universitas Airlangga Surabaya, Jumat.

Khofifah pernah menjadi calon Gubernur Jatim 2008 berpasangan dengan Moedjiono. Saat itu, duet yang diusung PPP dan puluhan partai koalisi tersebut membuat pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf tidak bisa "tidur nyenyak".

Khofifah memaksa ajang pemilihan gubernur digelar hingga dua putaran, bahkan ditemukan bukti oleh Mahkamah Konstitusi supaya digelar pemilihan ulang di sebagian kabupaten di Madura.

Hal ini juga yang membuat Dewan Pimpinan Daerah I Partai Golkar Jatim berpikir kembali mencalonkan Khofifah maju dalam Pilkada Gubernur Jatim yang rencananya digelar pertengahan 2013.

Menanggapinya, Khofifah hanya tertawa. Menurut dia, waktu satu tahun ke depan akan digunakan untuk melakukan pemetaan dan melihat perkembangan di Jatim.

"Saya juga akan lihat posisinya bagaimana, kita lihat saja nanti. Sudahlah yang penting saya terus melakukan penyapaan kepada masyarakat dengan niat melayani umat. Kalau demi kepentingan politik, jelas niat saya tidak akan dicatat malaikat," tuturnya.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Presiden Abdurrachman Wahid tersebut mengaku selama ini kegiatannya menyapa umat dari semua kalangan dan berbagai agama di dalam maupun luar negeri.

"Terakhir pada Desember 2011, saya dari Meksiko, Dubai, dan Kuwait menyapa umat dan berdiskusi dari hati ke hati. Tapi sekali lagi, tidak ada niatan politik. Begitu juga yang saya lakukan di desa-desa di Indonesia," kata dia.

Khofifah kembali mencuat di Jatim setelah namanya disebut-sebut sebagai calon Gubernur Jatim diusung oleh Partai Golkar. Ketua DPD Golkar Jatim Martono mengaku segala kemungkinan masih bisa terjadi sembari menunggu hasil sirvei yang dilakukan tim internal.

"Bisa saja Khofifah diusung oleh Golkar, tergantung hasil survei ke depan, sesuai petunjuk teknis partai. Kita tunggu saja hasilnya ke depan bagaimana," tukas Martono. (*)