Surabaya - Satu bulan terakhir ucapan selamat tahun baru kalender China "Gong Xi Fat Chai" sering menghiasi berbagai sudut Surabaya baik sejumlah rumah warga, toko kelontong maupun hotel bintang.

Animo masyarakat Kota Pahlawan untuk merayakan momentum yang akrab disebut imlek tersebut juga dirasakan perempuan bermata sipit, Stephanie Huang.

Pengajar di Lolly Pop Preschool Surabaya itu mengurai, perayaan Imlek Tahun 2012 yang sesuai dengan Tahun 2563 dalam penanggalan China siap dilakoni bersama keluarga besarnya.

"Biasanya H-1, kami mengadakan makan malam sedangkan saat hari H baru berkeliling ke rumah kakek-nenek dan kerabat lain," ujarnya, ditemui di Surabaya, Jumat.

Tradisi mengunjungi rumah generasi tua,terang dia, tak jauh berbeda dengan lebaran yakni ada anjang sana untuk meningkatkan tali silaturahmi. Namun, tiap keluarga China punya cara masing-masing.

"Tapi yang tak boleh ketinggalan adalah bagi-bagi angpao. Nah, karena saya masih lajang nantinya juga dapat angpao dari saudara," katanya.

Ditanya terkait perbedaan atmosfir imlek pada peringatan tahun ini dibandingkan tahun lalu, ia mengaku, momentum sekarang lebih terasa karena mayoritas saudaranya dari luar negeri pulang ke Tanah Air.

"Kalau tahun lalu, kami sempat merayakan imlek di luar kota tapi tahun ini cukup di Surabaya," katanya.

Walau demikian, nilai dia, makna imlek tak sekadar bagi angpao atau merayakan secara berlebihan mengingat arti yang terpenting yakni bisa berkumpul bersama keluarga tercintanya.

"Kekayaan harta bukan segalanya tanpa seseorang belum bisa meluangkan waktu terindahnya bagi keluarga. Mereka adalah angpao paling berharga di dunia," imbaunya.

Pada era kekinian, lanjut dia, perayaan imlek oleh masyarakat China di Indonesia bisa terlaksana tanpa perlu sembunyi-sembunyi seperti zaman Orde Baru. Contoh, sampai sekarang di Kantor Konsulat Jenderal China yang berada dekat dengan rumah Stephanie rutin mengadakan pesta kembang api setiap tahun.

"Kebebasan memperingati imlek sangat kami syukuri seiring pengakuan pemerintah dengan adanya hari libur nasional sejak kepemimpinan Gus Dur (alm) sampai sekarang. Dulu, bagaimana mau merayakan imlek 'lha wong' keberadaan masyarakat China tidak diakui," katanya.(*)