Surabaya - Seorang mantan atlet tinju asal Kota Surabaya Iwan Sadewo yang dulu sempat mengharumkan nama Kota Surabaya di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 di Surabaya pada 1969 kini kehidupannya memprihatinkan.

Kondisi ini baru diketahui oleh Ketua Komisi D Bidang Kesra DPRD Surabaya Baktiono pada saat Iwan yang sering dipanggi Bero Sadewo mendatanginya di ruang kerjanya pada Selasa siang.

"Sebetulnya Pak Iwan sering datang ke sini (DPRD), tapi dia tidak pernah menceritakan riwayat hidupnya. Tapi bari kali ini secara spontan, dia mengatakan pernah mendapatkan medali emas PON ke-17 di Surabaya pada 1969 kelas terbang layang," katanya.

Mendapati hal itu, lanjut dia, pihaknya mengorek sejumlah keterangan Iwan seputar prestasi yang diraihnya. "Saya juga tanya nama-nama petinju lain seangkatannya, ternyata dia banyak tahu. Artinya dia benar-benar mengharumkan nama Surabaya," ujarnya.

Sayangnya, lanjut dia, kehidupan Bero Sadewo kini cukup memprihatikan. "Di usianya yang lanjut usia (lansia) ini, dia sakit-sakitan. Bahkan rumahnya di Ketintang Baru 17 No 41 sering banjir," katanya.

Menurut Baktiono, kondisi yang dialami Iwan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah khususnya Pemkot Surabaya.

"Untuk itu, saya minta Dispora (Dinas Pemuda dan Olahraga) dan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) setempat mendata atlet nasinal maupun Surabaya yang pernah mengharumkan kota dan negara. Paling tidak ada penghargaan atau santunan kepada mereka," kata Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Baktiono juga menjelaskan di Pemkot Surabaya bisa mengoptimalkan program Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK), dana hibah wali kota atau dana hibah DPRD Surabaya untuk membantu mereka.

"Jika mereka dibantu, maka bisa memberikan semangat kepada atlet-atlet muda saat ini khususnya warga Surabaya untuk tidak canggung terjung di olahraga. Apalagi di masa tuanya diperhatikan," katanya.

Mendapati hal itu, Baktiono memanggil pihak Dinas Sosial untuk menindak lanjuti persoalan mantan atlet ini. "Saya panggil pihak Dinsos agar para atlet ini diperhatikan. Biar dapat santunan dari pemkot," katanya.

Kepala Seksi Rehabilitasi Anak dan Tuna Sosial Dinsos Surabaya Ariyani mengatakan,0 pihaknya akan menindaklanjuti temuan Komisi D dengan cara melihat langsung ke rumah mantan atlet tersebut.

"Saat ini diidentifikasi dulu permasalahannnya, kemudian rumahnya. Kalau sudah, nanti baru dibahas apa yang bisa dibantu," katanya.

Ariyani mengatakan, pihaknya sudah mewawancarai atlet tersebut. Hasilnya atlet tersebut sering nangis jika ditanya seputar keluarganya khususnya anak-anaknya. "Waktu saya tanya soal anaknya, dia menangis. Mungkin dia trauma ditinggal anaknya," ujarnya.

Iwan, lanjut dia, saat ini hanya tinggal berdua dengan istrinya. Sementara tiga anaknya saat ini sudah pisah sejak lama. "Kami akan bantu sebisa mungkin. Di dinsos ada program lansia, dia juga lansia nanti bisa disaulurkan lewat Bapemas (Badan pemberdayaan Masyarakat)," ujarnya.

Sementara itu, Iwan yang saat ini berumur sekitar 64 tahun, ingatannya mulai menurun. (*)