Bojonegoro - Warga Desa Ngringinrejo dan sekitarnya di Kecamatan Kalitidu dan Trucuk, Bojonegoro, Jatim, sejak dua pekan terakhir memanfaatkan jembatan yang membentang di atas perairan Bengawan Solo yang menjadi satu dengan bangunan Bendung Gerak.

Seorang warga Desa Padang, Kecamatan Trucuk, Kartono (35), Jumat, mengatakan, warga mulai memanfaatkan jembatan itu karena mendapatkan izin dari penjaga proyek yang menempati pos jaga di jalan masuk jembatan di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu.

Di pos jaga itu, selain ada pos jaga juga dilengkapi dengan tutup pintu besi yang melintang di atas jembatan. Sementara itu, di seberang jembatan di Desa Padang, Kecamatan Trucuk, juga dilengkapi besi melintang, tapi lokasi pos jaga berada di luar jembatan.

"Pelintas jembatan sebagian besar warga Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, terutama pagi hari, " katanya yang dibenarkan Maskun, warga desa yang sama.

ANTARA yang berada di lokasi Bendung Gerak, menjumpai hampir semua pelintas jembatan tersebut datang dari Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu, menuju Padang, dengan mengendarai sepeda kayuh dan kendaraan bermotor roda dua.

Sementara itu, di sejumlah lokasi terpampang tulisan "jalan setempat bukan merupakan jalan umum" .

Menurut Kartono, belum ada pelajar yang melewati jembatan itu. Para pelajar terutama dari Desa Padang, Kecamatan Trucuk, masih memanfaatkan perahu tambang yang lokasinya berada di dua lokasi, baik di hilir dan hulu jembatan.

"Para pelajar enggan, sebab jalan ke arah jembatan masih licin, " katanya menjelaskan.

Ditemui terpisah, Staf Ahli Bupati Bojonegoro Bidang Pembangunan, Tedjo Sukmono, menjelaskan, pekerjaan yang sedang berjalan yaitu membangun jalan penghubung sepanjang 3,5 kilometer di Desa Ngringinrejo, Kecamatan.

Selain itu, juga jalan penghubung dari lokasi bendung ke arah Desa Padang, Kecamatan Trucuk sekitar 1,5 kilometer.

Menurut dia, pembangunan jalan penghubung yang menyambung dengan jembatan di lokasi bendung tersebut, baik yang ke arah Desa Ngringinrejo maupun Desa Padang, dengan sistem paving sesuai permintaan warga.

"Kontraktor setuju, jalan penghubung tersebut dibangun dengan sistem paving untuk memenuhi permintaan warga," katanya menjelaskan.

Secara teknis, bendung gerak memiliki bentangan 504 meter, dengan tujuh buah pintu, masing-masing pintu lebarnya 17,5 meter dengan tipe "radial gate". Selain itu, bendungan juga dilengkapi dengan dua pintu pengatur debit air yang masing-masing lebarnya 17,5 meter.

Pembangunan Bendung Gerak dengan dana Rp360 miliar dari Bank Dunia itu itu ditargetkan rampung pada Maret 2012.

"Keberadaan jembatan bisa dimanfaatkan warga, hanya saja kendaraan roda empat tidak diperbolehkan, sebab lebar jembatan hanya tiga meter, " katanya, mengungkapkan. (*).