Pacitan - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengimbau kepada seluruh warganya yang bermukim di kawasan pesisir selatan mewaspadai potensi gempa dan tsunami seiring kemunculan patahan Cilacap yang diprediksi terjadi di selatan Jawa Tengah.

"Setidaknya ada delapan daerah di Jawa Timur yang memiliki risiko tinggi terhadap bencana gempa dan tsunami. Kedelapan daerah itu semua berada di pesisir selatan," kata Kasi Kesiagaan bencana BPBD Jatim Sugeng Yanu Santoso, Jumat.

Sugeng mengatakan, pihaknya merasa perlu memberikan dorongan penanggulangan bencana kepada daerah-daerah yang masuk kategori risiko tinggi bencana gempa dan tsunami di kawasan pesisir selatan.

Apalagi, berdasar ramalan atau hasil analisis tektonik yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengenai kemunculan patahan atau sesar baru yang cukup besar di selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Meski hal itu belum bisa dipastikan waktunya, Sugeng menyebut potensi bencana itu sebagai hal yang sangat serius dan patut diwaspadai sejak dini.

"Masyarakat dan aparat perlu disiapkan. Salah satu bentuk antisipasinya berupa penyiapan kontigensi bencana sebagai pedoman untuk evakuasi jika gempa bumi dan gelombang tsunami benar-benar terjadi," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Koordinator Pusat Informasi Bencana BPBD Jatim Abdul Hamid. Selain Kabupaten Pacitan, ancaman serupa juga berpoteni terhadap tujuh kabupaten di pesisir selatan lainnya, yakni Kabupaten Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.

"Lantaran berdekatan dengan laut, petugas BPBD di daerah harus lebih intensif melakukan pelatihan, koordinasi, dan menyusun rencana penyelamatan," ujarnya.

Sesuai penelitian dari ahli Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di sekitar wilayah Cilacap akan muncul patahan dan dampaknya kemungkinan terasa sampai di Jatim.

Terkait kemunculan patahan Cilacap tersebut, Hamid mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan LIPI untuk mengetahui perkembangan cikal bakal patahan baru tersebut.

Patahan akan berbahaya ketika gerakannya vertikal, sebab air laut dapat terangkat. Berbeda dengan patahan horisontal yang gerakannya tidak berbahaya. Dari catatan di BPBD Jatim setiap tahun terjadi pergeseran lempeng sejauh enam sentimeter. (*)