Surabaya - Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore menyatakan komitmennya mempercepat pemindahan pipa Kodeco Energy Co., Ltd pada bulan Juli tahun 2012 untuk mewujudkan arus pelayaran yang aman bagi masyarakat sekitar Alur Pelayaran Barat Surabaya.

"Pemindahan pipa ini kami percepat karena tahap pemendaman pipa pada crossing dua masih membutuhkan waktu lama. Padahal, dunia usaha di Jatim yang memanfaatkan jalur pelayaran di Selat Madura ingin alur pelayaran itu aman secepatnya," kata "Vice President" PT Pertamina Hulu Energi WMO, Boyke Pardede, dalam rilisnya yang diterima ANTARA di Surabaya, Kamis.

Menurut dia, pipa Kodeco yang akan dipindahkan itu terbentang antara lapangan minyak PHE WMO di perairan Madura sampai di sebelah Timur Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS). Besaran dana yang dibutuhkan untuk pemindahan pipa itu mencapai 35 juta dolar Amerika Serikat.

"Walau sekarang posisi Kodeco sebagai operator di Blok West Madura Offshore (WMO) telah digantikan Pertamina sejak 7 Mei 2011, pelaku usaha di Jatim tetap menuntut pemindahannya. Untuk itu, kami berkomitmen untuk menuntaskan pemendaman dan pemindahan pipa," ujarnya.

Terkait pemendaman pipa crossing satu, ia mengaku, kini posisinya sudah di kedalaman 19 meter Low Water Spring walaupun realisasinya terlambat dari jadwal yang ditargetkan. Faktor penyebab keterlambatan, karena prosesnya dilakukan ketika gas masih mengalir dan faktor cuaca yang kurang mendukung.

"Oleh karena itu, biaya yang semula diperkirakan hanya 6 juta dolar AS semakin membesar menjadi lebih dari 20 juta dolar AS," katanya.

Kalau pemendaman pipa di crossing dua, urai dia, masih menunggu penyelesaian tahap "engineering" dan prosedur "trenching" di mana dari hasil analisa tanah akan membutuhkan peralatan dan kapal yang lebih besar. Kondisi tersebut disiasati dengan merekomendasikan solusi jangka menengah yakni memindah pipa yang telah ditopang sesuai hasil studi LPPM ITS.

"Ada tiga alternatif rute dan kami pilih alternatif satu yaitu memindahkan sebagian pipa gas bawah laut di area crossing satu dan dua itu ke sebelah Timur APBS," katanya.

Selain itu, ia mengkaji, solusi jangka panjang dengan memindahkan keseluruhan pipa di mana dari daerah fasilitas produksi minyak dan gas PHE WMO rencananya akan ditarik ke daratan di fasilitas penerimaan gas di Gresik. Untuk itu, ia juga meminta LPPM ITS melakukan studi awal jalur pipa baru 16 inchi.

"Studi dilakukan dari Poleng Processing Platform (PPP) ke Onshore Receiving Facility (ORF di Gresik) dengan melewati laut, pantai, dan darat yang meliputi ROW, tambak, daerah pertanian, industri dan perumahan. Kami targetkan hasil studi awal tersebut selesai pada bulan Maret 2012," katanya.

Menyikapinya, Deputi GM Pelindo III Tanjung Perak, Mochamad Masduki, menyarankan, agar pemindahan pipa juga dilakukan terhadap pipa yang kondisinya belum dipendam atau bukan hanya pipa dari Kilometer Poin (KP) 32 ke KP 50 tetapi hingga ke KP 54.

"Pipa yang masih telanjang juga harus dipindah agar benar-benar aman dan tidak kerja dua kali," katanya.

Pemindahan tersebut ikut mendapat dukungan dari Kepala Perwakilan BP Migas Japalu Hadi Prasetyo. Ia melanjutkan, apa yang diminta pelaku dunia pelayaran harus diakomodasi sehingga studi LPPM sebaiknya diperluas cakupannya.(*)