Bojonegoro - Pemkab Bojonegoro menyalurkan bantuan 40 ekor kambing Marino asal Australia untuk dikembangkan kepada 20 lembaga sebagian besar dari panti asuhan, pondok pesantren dan kelompok ternak di daerah setempat.

"Mengembangkan kambing Marino jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan kambing lainnya," kata seorang peternak kambing Marino asal Jombang, Budi, ketika acara penyerahan bantuan itu, Selasa.

Dalam acara penyerahan kambing Marino tersebut, selain dihadiri perwakilan penerima, hadir juga Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Tukiwan Yusa dan dosen Fakultas Peternakan Universitas Airlangga Dr Herry Agoes Hermadi, drh.M.Si.

Menurut Budi, dengan beternak kambing Marino, tidak hanya bisa diambil dagingnya, namun juga bulunya bisa dijual dengan harga Rp5.000/kg. Bulu kambing Marino, bisa dimanfaatkan untuk bantal, kasur juga yang lainnya.

"Pembelinya dari Jawa Tengah," ucapnya.

Ia menjelaskan, di Jawa Timur pengembangan kambing Marino baru ada di Jombang dan Jember, menyusul kemudian Bojonegoro. "Dalam mengembangkan kambing Marino, kami memanfaatkan tenaga ahli dosen Fakultas Peternakan Unair, untuk pendampingan," ucap Ketua Forum Panti Asuhan Bojonegoro, Abdul Wachid, menambahkan.

Menurut dosen Fakultas Peternakan Unair, Dr Herry Agoes Hermadi, drh. M.Si, beternak kambing Marino beratnya bisa mencapai 200 kilogram untuk kambing jantan dalam waktu 1,5 tahun dan 50 kilogram untuk kambing betina.

Padahal, katanya, dalam waktu yang sama, beternak kambing biasa beratnya hanya sekitar 30 kilogram. Dengan demikian, pendapatan dengan menjual daging kambing Marino jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kambing biasa.

Ia menuturkan, dengan harga daging kambing rata-rata Rp20.000/kg, harga seekor kambing Marino dengan berat 200 kilogram, harganya bisa mencapai Rp4 juta. Mengenai rasa daging kambing itu, kalau dimakan dagingnya empuk, selain baunya tidak "apek".

"Dalam beternak juga tidak sulit, sampahpun dimakan, termasuk gedebog pisang," papar Agoes, mengungkapkan.

Dalam pertemuan itu, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro, Tukiwan Yusa, meminta para peternak mewaspadai munculnya penyakit mata, kudis dan cacing pada kambing.

Sebab, lanjutnya, penyakit yang biasa terjadi di kambing itu, bisa mengakibatkan kematian kambing, juga bisa menular kepada manusia.

"Kalau muncul ketiga penyakit itu, secepatnya diobati, bisa juga dengan menghubungi mantri hewan yang ada," katanya, menjelaskan.(*)