Bondowoso - Kedatangan jasad Suramlah (35), tenaga kerja Indonesia yang dibunuh dengan cara dimutilasi di Malaysia bersama anaknya, disambut histeris keluarganya di Desa Sukowono, Kecamatan Pujer, Bondowoso, Jatim, Rabu petang.

Jasad Suramlah dan anaknya Muhammad Sukri dibungkus dengan peti warna biru langit cerah. Begitu turun dari mobil ambulans, peti jasad Sukri dibawa terlebih dahulu ke rumah duka dengan diiringi bacaan shalawat.

Tangis keluarga meledak setelah peti jasad Suramlah masuk ke ruang tamu. Keluarga korban, terutama perempuan menangis. Begitu juga dengan saudara ipar Suramlah yang sempat pingsan beberapa saat setelah kedua jenazah dishalatkan. Sementara keluarga lainnya memeluk dan mencium peti jenazah.

Kedua anak Suramlah, Eko Saiful Bahri (20) dan Dwi Musayyanah (16) yang sudah yatim piatu justru tampak tabah menghadapi kenyataan tersebut. Namun, Eko sempat lunglai ketika menerima peti jasad ibunya di Bandara Juanda, Surabaya.

"Eko sempat lunglai saat menerima peti mati ibu dan adiknya di Juanda, tapi setelah itu alhamdulillah kuat sampai tiba di Bondowoso," Yoyok, saudara Suramlah, yang bersama dengan Eko dan petugas Disnakertrans Bondowoso menjemput jenazah ke Bandara Juanda.

Sementara Bidin, ayah Suramlah, terlihat syok untuk beberapa lama. Ia tidak bisa berkata-kata dan hanya meneteskan air mata menyambut kedatangan jasad anak dan cucunya. Sesekali ia melantunkan dzikir menyebut nama Allah dengan lirih.

Jasad kedua korban tidak terlama disemayamkan di rumah duka yang sangat sederhana dan hanya berdindingkan anyaman bambu tersebut. Begitu tiba di ruang tamu yang sempit, kedua jasad dishalatkan dan setelah itu dibawa ke pemakaman umum untuk dikuburkan.

Saat dibawa ke pemakaman yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya, tangis keluarga Suramlah masih belum reda. Ratusan keluarga dan tetangga menyambut kedatangan TKI yang bekerja di Malaysia sejak 2007 itu, termasuk mengantar hingga ke pemakaman.

Seusai pemakaman, Bidin mengatakan bahwa kemungkinan pihak keluarga hanya akan melakukan tahlil satu malam. Selain karena korban sudah lama meninggal, juga karena pertimbangan biaya. Bidin bersama istrinya yang hanya buruh tani selama ini menghidupi kedua anak Suramlah. Padahal ketika masih hidup, Suramlah menjadi tulang punggung keluarga.

Meskipun demikian, sebagaimana adat di masyarakat desa, keluarga Suramlah masih menyediakan makanan berupa nasi untuk para pelayat. Makanan tersebut, menurut keluarga, merupakan sumbangan dari para keluarga dan tetangga.

Suramlah ditemukan tewas bersama dengan anaknya Muhammad Sukri di sebuah apartemen Taman Kosas, Ampang, Selangor, Malaysia, Rabu, 3 Agustus lalu.

Setelah melakukan penantian cukup lama, akhirnya keinginan Eko dan Dwi agar jasad ibu dan adik kecil yang selama ini hanya diketahui lewat foto yang dikirim Suramlah akhirnya terkabul. Anak balita Suramlah yang menjadi korban pembunuhan itu adalah hasil perkawinan Suramlah dengan pria asal Malaysia. (*)