Pasuruan – Pasuruan sebenarnya bisa disebut sebagai salah satu daerah produsen mangga terbesar di Jawa Timur, atau bahkan di Tanah Air, tapi sebutan sebagai "Kota Mangga" masih tetap punya daerah tetangganya, Probolinggo.

Padahal, Pasuruan selain sebagai daerah produsen mangga terbesar juga merupakan satu-satunya daerah yang memiliki kebun koleksi mangga yang berfungsi sebagai koleksi plasma nutfah mangga terlengkap di Asia Tenggara.

Popularitas Probolinggo sebagai Kota Mangga bisa dimaklumi. Sebab secara kasat mata, setiap orang yang melintasi Kota Probolinggo akan disuguhi pemandangan gerai mangga produksi para petani setempat. Sebaliknya di daerah Pasuruan pemandangan serupa tidak dijumpai.

Penjualan mangga produksi Pasuruan banyak dijajakan ke luar kota, secara sembunyi (eksklusif), maupun tradisional dengan cara borongan tanpa menyebut nama Pasuruan. Tak heran, jika mangga produski Pasuruan yang dijual di luar kota juga lebih dikenal sebagai mangga Probolinggo.

Kekaguman serta rasa keheranan itu tergambar saat rombongan wartawan yang menyertai Direktur Perbenihan Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Sri Jayanti mengunjungi budi daya tanaman mangga dengan model "estate" di Desa Oro-oro Ombo Wetan, Kecamaatan Rembang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, September lalu.

Para tamu dari Jakarta tersebut menanyakan mangga Pasuruan yang lezat karena dipanen masak pohon itu bisa dibeli di mana saja, sebab di pasar-pasar buah di ibu kota tidak ditemukan.

Ketua Gapoktan "Tani Makmur Santosa" Desa Oro-oro Ombo Wetan, Slamet Yakub menyebutkan, mangga-mangga produkski petani di wilayah Rembang hanya dijual khusus untuk memenuhi permintaan pasar swalayan (supermarket) kelas atas di Jakarta dengan menggunakan kemasan Lily Manggo.

Mangga jenis Arumanis atau Gadung Klone 21 produksi petani Rembang, Pasuruan dijual rata-rata Rp10 ribu per buah, sehingga tidak bisa ditemui di pasar-pasar tradisional.

Direktur Perbenihan Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Sri Jayanti memberi apresiasi terhadap para petani yang telah membudidayakan tanaman mangga dalam satu hamparan, atau dalam bentuk estate. Ia berharap budi daya tanaman mangga dengan model estate bisa dikembangkan di daerah lain.

Sebab, lanjut Sri Jayanti, budi daya mangga model estate sangat menguntungkan petani, sehingga berdampak pula terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan, Ihwan menjelaskan, pengembangan budi daya tanaman mangga dalam satu hamparan tersebut telah dirintis sejak 1994. Luas lahan tanaman mangga milik anggota yang tergabung dalam satu hamparan tersebut mencapai sekitar 463 hektare.

Dijelaskan, rancang bangun budi daya tanaman mangga dalam bentuk estate tersebut sebenarnya telah disiapkan secara matang sejak pemerintahan Orde Baru, yakni mulai pembangunan infrastruktur jalan, serta gudang hasil panen.

Namun sejak pemerintahan Orde Baru tumbang, rencana menjadi berantakan. Meski demikian, para petani yang telah telanjur menanam mangga masih tetap merawatnya dengan baik, sehingga hasilnya dapat dinikmati seperti sekarang ini.

Untuk itu, Ihwan berharap, realitas yang telah ada tersebut tinggal melanjutkan sesuai rancang bangun yang telah dipersipakan seperti semula. Ia menyebutkan, budi daya tanaman mangga model estate di Pasuruan dikembangkan di tiga wilayah, yakni Rembang, Sukorejo, dan Wonorejo.

Namun, dari ketiga lokasi tersebut yang hasilnya paling baik adalah yang ada di wilayah Rembang. Kualitas buah mangganya lebih lezat karena didukung tektur tanahnya yang kering berpasir.

Dijelaskan, Gapoktan Tani Makmur Santosa yang mempunyai anggota 120 orang dengan lahan seluas 463 hektare, berhasil memenej budi daya tanaman mangga secara baik, mulai dari budi dayanya hingga penanganan pascapanen serta pemasarannya.

Seiring dengan peningkatan budi daya dam manajemen pemasaran, pendapatan petani mangga di Rembang, Pasuruan juga meningkat. Dari aktivitas budi daya mangga saja, sirkulasi uang di Rembang berkisar antara Rp2,5 miliar, hingga Rp4 miliar per tahun.

Namun, ada juga buah mangga produksi Pasuruan yang dijual secara tradisional di Pasar Buah Pasrepan dengan cara borongan. Mangga-mangga produksi para petani tersebut, kemudian dikirim ke berbagai kota di Jawa hingga kota-kota di Kalimantan.

Seorang pengepul mangga di Pasar Buah Pasrepan, Sulaiman menyebutkan, sedikitnya ada tiga jenis mangga unggulan yang diminati pasar, yakni Arumanis atau biasa disebut Gadung, serta Golek, dan Madu atau Lalijiwo. Harganya juga nisbi murah.

Disebutkan, harga mangga Arumanis di tingkat petani berkisar antara Rp3.500,00 hingga Rp5.500,00 perkilogram. Sedangkan golek dan Lalijiwo berkisar antara Rp2.500,00 hingga Rp4.000 perkilogram.

Sulaiman sendiri sebagai pengepul mangga mengaku setiap dua hari sekali menjual mangga produksi Pasuruan tersebut ke kota-kota di Kalimanta, antara 800 hingga 1.000 peti yang setiap petinya berisi sekitar 30 kilogram.

Sulaiman sebagai pengepul mangga mengaku tidak sendirian, tapi banyak teman lainnya yang juga menjadi pengepul mangga dengan spesial jenis mangga maupun kota yang dituju.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Pasuruan, Ihwan menyebutkan, potensi tanaman mangga di Kabupaten Pasuruan mencapai 1,3 juta pohon atau sekitar 13.851 hektare dengan total produksi 85.131 ton per tahun, dengan produktivitas rata-rata 61,46 kg per pohon.

Potensi tersebut jauh lebih tinggi dibanding potensi mangga di Probolinggo saat ini. Kepala Seksi Budi daya DinasTanaman Pangan Kabupaten Probolingo, Bandot Prawoto mengakui produksi mangga Probolinggo belakangan ini merosot, akibat maraknya penebangan pohon mangga di daerahnya.

Disebutkan, banyak tanaman mangga ditebang karena rata-rata telah berumur dan tidak produktif lagi, atau jenisnya sudah tidak disukai pasar. Warga kemudian lebih memilih membudidyakan pohon sengon karena keuntungannya yang lebih menjanjikan. Hanya dengan kurun waktu 4-5 tahun sudah bisa dipanen untuk keperluan industri kerajinan berbahan baku kayu.

Diungkapkan, penurunan populasi tanaman mangga di Probolinggo terjadi sangat menyolok pada 2010. Dari data yang ada di Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Probolinggo, populasi tanaman mangga pada tahun 2009 masih mencpai 1 juta pohon, tapi setelah 2010 terus berkurang hingga tinggal 789.397 pohon.

Produktivitas mangga juga turun, jika pada tahun 2009 masih mencapai 43,24 kilogram per pohon, tahun 2010 juga turun hanya tinggal 38,53 kilogram per pohon.

Sebagai daerah produsen mangga terbesar, Pasuruan juga mempunyai kebun koleksi plasma nutfah mangga terlengkap di Asia Tenggera. Kebun Percobaan di Desa Cukurgondang, Kecamatran Grati, yang terletak pada 20 kilometer di timur Kota Pasuruan tersebut mempunyai luas lahan 13,02 hektare.

Rebin, salah seorang peneliti di Kebun Percobaan Cukurgondang menyebutkan, Kebun Percobaan Cukurgondang kini memiliki koleksi plasma nutfah mangga berjumlah 208 varietas dengan 298 klon/akses dengan jumlah tanaman sebanyak 1.148 pohon yang berasal dari dalam negeri dan hasil introduksi dari luar negeri.

Dari kegiatan seleksi dan karakterisasi telah diperoleh beberaoa varietas unggul yang telah dilepas, dan beberapaa klon harapan yang mempunyai prospek ekonomi yang cukup tinggi.

Rebin menyebutkan, klon mangga yang telah dilepas tahun 1985 sebanyak tiga klon masing-masing Arumanis 143, Golek 31, dan Manalagi 69. Kemudian pada tahun 2002 melepas tujuh varietas unggul masing-masing, Marifta 01, Ken Layung, Sala 250, Dugur 141, Gayam 345, Kraton 119, dan Manggasari 243.

Sedangkan empat varietas dilepas oleh BPSB masing-masing Podang Urang, Gedong, Dodol, dan Lalijiwo. Sedangkan empat klon mangga yang dilepas tahun 2008 masing-masing Haden (Garifta Orange), k. maidah (Garifta Gading), Li’ar (Garifta Merah), dan Paw-paw (Garifta Kuning).

Sedangkan tiga klon harapan untuk bahan baku rujak masing-masing, Bahdar Khandi, Himand Phasand, dan Diphasan. Sementara klon harapan yang punya prospektif untuk batang bawah dan aroma durian masing-masing, Lalijiwo 91, Duren, dan Mangilera Gadebi.

Rebin juga mengungkapkan, Kebun Percobaan Cukurgondang kini juga sedang menanti hasil persilangan antara mangga Garifta dengan Arumanis. Harapannya, untuk mendapatkan buah mangga dengan tampilan yang lebih menarik berwarna warni serta rasa yang lezat.

Mau mencoba. Silakan tunggu !. (mus1602@yahoo.co.id)