(Eka Widya Irmaningtias S.Sos M.Si) -

Memiliki bayi yang sehat, cerdas, dan aktif merupakan impian setiap pasangan suami istri yang baru menikah dan ingin segera memiliki momongan.

Tidak hanya asupan ASI yang dibutuhkan selama kurang lebih dua tahun untuk mendukung tumbuh kembang secara optimal buah hati usia bawah lima tahun. Melainkan juga makanan pendamping ASI (MPA) “home made” ketika bayi mulai memasuki usia ke enam bulan dan pilihan aktivitas “kebugaran”, yaitu baby spa untuk bayi masa kini.

Tidak sedikit para ibu yang resah saat buah hati mereka mulai mengonsumsi MPA “home made” dan sekaligus memilihkan aktivitas guna merangsang fungsi motorik anak mereka. Situasi kerisauan seperti ini juga pernah dialami oleh Shofa Yuninta Romadhona (27), ibunda dari Shahzad El Narendra (8 bulan). El, panggilan akrab sang buah hati membuat ibu muda yang pernah melahirkannya melalui persalinan normal dengan metode hypnobirthing ini, sempat bingung saat usia bayi aktif tersebut mulai memasuki enam bulan. Karena selain ASI eksklusif hingga usia 2 tahun nanti, bayi El juga butuh “gizi tambahan” untuk menunjang aktivitas geraknya yang mulai aktif.

ASI
Hanya ASI eksklusif, satu-satunya makanan dan minuman yang diperlukan seorang bayi dalam enam bulan pertama. Tidak ada makanan atau minuman lain yang diperlukan selama periode enam bulan ini, bahkan susu formula yang harganya paling mahal sekalipun kemungkinan juga belum memiliki kandungan sebaik ASI.

Karena itu, ASI merupakan makanan yang bergizi dan berkalori tinggi yang mudah untuk dicerna oleh bayi. Selanjutnya, ASI memiliki kandungan yang membantu penyerapan nutrisi, perkembangan dan pertumbuhan, juga mengandung sel-sel darah putih, antibodi, antiperadangan dan zat-zat biologi aktif yang penting bagi tubuh bayi serta melindungi bayi dari berbagai penyakit. Kandungan-kandungan tersebut tidak terdapat dalam susu formula.

“Sebagai bukti jika ASI merupakan yang terbaik, adalah berat badan El yang naik sesuai dengan garis hijau pada buku KMS (Kartu Menuju Sehat) lebih cepat daripada diberikan susu formula, dan alhamdulillah belum pernah sakit. Ssampai saat ini El hanya demam sebentar saat setelah diimunisasi, kemudian normal kembali,” ungkap Shofa, sapaan akrab istri dari dr Sentot Primadianto ini.

MPA “home made”
MPA “home made”, dapat mulai diberikan kepada bayi saat memasuki usia enam bulan. Pada tahap ini biasanya para ibu bingung memikirkan menu makanan apa saja yang terbaik dan dapat dikonsumsi sang buah hati selain ASI (MPA-ASI). Mengatur jadwal menu makanan untuk bayi sehat memang tidak mudah, apalagi makanan tersebut mengandung komposisi gizi seimbang dan dimasak sendiri (non instan). Dari mulai murni buah, sayuran, sampai bubur saring dan bubur lembut dapat dibuat. Selanjutnya permasalahan yang sering terjadi adalah ketika makanan sudah siap dikonsumsi, tiba-tiba bayi tidak mau makan atau sekedar mencicipi masakan sehat dan lezat buatan ibunda tercinta. Nah lho!

Seperti yang dialami ibunda El, diceritakan bahwa suatu saat putranya tidak mau makan sehingga membuat ia panik. Kemudian berinisiatif untuk mengonsultasikan kepada dokter spesialis anak, yaitu Prof Dr Moersintowati B. Narendra dr MSc SpA(k), yang selanjutnya menyatakan bahwa bayi termasuk sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, hal ini wajar, mengingat bayi mulai tumbuh gigi, atau bisa juga jarak antara pemberian ASI dan MP-ASI terlalu dekat. Karena itu, jarak ideal saat bayi akan diberikan MPA adalah paling tidak 2 jam setelah waktu terakhir pemberian ASI. Atau juga makanan yang diberikan kurang variatif, sehingga dapat membuat bayi menjadi bosan.

“Setelah kunjungan ke dokter spesialis anak, kami mulai mengubah strategi, alhamdulillah putra kami mau makan kembali dan berat badannya otomatis juga naik. Saat ini berat badannya adalah 10 kg dan pada 8 Oktober 2011 kemarin berhasil menjadi juara pertama kategori bayi sehat yang diadakan salah satu sekolah bayi di Sidoarjo,” kata Shofa.

Baby Spa
Selanjutnya untuk meningkatkan fungsi motorik bayi ketika mulai masuk usia tiga bulan, ibu masa kini harus pandai memilihkan aktivitas kebugaran yang aman, nyaman, dan yang pasti dapat menyehatkan tubuh sang buah hati. Sekarang banyak ditemui tempat-tempat khusus untuk menggrooming bayi masa kini, yaitu "baby spa and massage". Tidak hanya orang dewasa yang butuh perawatan diri, bayi pun juga membutuhkannya. Mungkin kalau bayi-bayi mungil dan lucu ini bisa ngomong, pasti mereka akan protes capek saat tubuh mungilnya hanya diletakkan di tempat tidur, sementara ibundanya sedang melalukan perawatan diri.


Dengan mengikutkan baby spa and massage secara rutin, yaitu satu kali dalam seminggu, maka tumbuh kembang fungsi motorik bayi dapat meningkat. Karena dalam kegiatan tersebut, bayi tidak dibiarkan begitu saja dalam melakukan aktivitas kebugarannya. Tapi dengan pendampingan seorang tenaga profesional, bayi dibimbing saat melakukan aktivitasnya. Antara lain bayi diajak berenang di kolam air mini dan hangat dibantu dengan "necking" (seperti pelampung yang dililitkan ke leher), sehingga bayi dapat mengapung dan leluasa bergerak kesana kemari, dilanjutkan dengan pijat. Jadi lengkap sudah, setelah mengajak bermain sang buah hati di kolam renang mini, kemudian dilakukan relaksasi untuk bayi. Pada tahap massage ini biasanya bayi-bayi mungil bisa sampai tidur nyenyak.

Diungkapkan Shofa Yuninta tentang pengalamannya mengikutsertakan sang buah hati pada kelas baby spa and massage ini. Pertumbuhan putranya sangat mencolok, yaitu saat usia 4 bulan El Narendra yang lahir pada 24 Januari 2011 ini sudah tengkurap, usia 5 bulan sudah dapat duduk sendiri, usia 6 bulan mulai belajar merangkak. Saat usia 8 bulan saat ini dia sudah bisa merangkak dengan sangat cepat, dan berdiri sendiri tanpa dibantu. Tapi tetap harus dalam pengawasan orang tua.

Memang ada keasyikan tersendiri dalam aktivitas mengurus serta memberikan yang terbaik bagi masa tumbuh kembang bayi kita agar dapat menjadi bayi yang sehat dan aktif. Ketiga unsur yaitu ASI, MPA, dan baby spa, saling mendukung serta melengkapi. Bagi ibu-ibu masa kini, ketiga hal tersebut dapat dicoba untuk diterapkan dalam proses menyiapkan bayi kita yang kelak akan menjadi sosok yang sehat dan berkualitas. (*)


*) Eka Widya Irmaningtias, pascasarjana Universitas Dr Soetomo Surabaya.
eka_widyaningtias@yahoo.com