Pamekasan - Persediaan pangan berupa padi dan jagung pada sebagian warga perdesaan di Pamekasan, Madura, pada musim kering saat ini mulai menipis.

Menurut Saputri (57) warga Dusun Daporah, Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Sabtu menjelaskan, persediaan pangan miliknya kini tinggal sedikit dan diperkirakan tidak akan cukup hingga musim panen nanti.

"Kalau persediaan jagung saya di 'dhurung' sudah tinggal sedikit sekali," katanya menjelaskan.

"Dhurung" merupakan nama tempat penyimpanan pangan warga, baik berupa jagung ataupun gabah yang ditempatkan di bagian atas dapur milik mereka.

Pola penyimpangan pangan di 'dhurung' ini banyak dilakukan warga perdesaan di Madura, termasuk warga Pamekasan. Pola menyimpan pangan ini sudah menjadi tradisi warga dan sampai saat ini masih berlangsung.

Untuk mengantispasi kekurangan persediaan pangan ini, Saputri dan para warga di Dusun Daporah, Desa Gagah, Kecamatan Kadur itu, terpaksa memasak dengan singkog.

"Jadi sehari masak beras dicampur jagung, sehari kami masak singkong. Kalau tidak seperti itu, persediaan tidak cukup, hingga musim panen nanti," katanya menuturkan.

Di Pamekasan, termasuk di semua wilayah di Pulau Madura yang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Timur ini, tanaman pangan singkong merupakan jenis tanaman yang bisa bertahan di musim panas.

Warga perdesaan di wilayah ini menjadikan singkong sebagai makanan alternatif, jika persediaan pangan mereka berupa gabah dan jagung sudah menipis.

Hampir semua warga di Dusun Daporah, Desa Gagah, Kecamatan Kadur Pamekasan ini memiliki tempat penyimpanan pangan yang disebut 'dhurung' tersebut.

"Kalau masyarakat di sini, hasil pertanian itu kan tidak dijual, tapi disimpang untuk persediaan makanan selama satu tahun," kata warga lain di Dusun Daporah, Mustain. (*)