Pasuruan – Masyarakat suku Tengger di sejumlah daerah di lereng Gunung Bromo (2.392 m), Jawa Timur, melaksanakan upacara Karo untuk memperingati terciptanya alam semesta dengan mengundang arwah para leluhur suku Tengger di daerah tersebut, Rabu.

Peringatan Hari Raya Karo diawali dengan tarian Sodor yakni simbolisasi asal suku Tengger di Desa Tosari dan dilanjutkan selamatan di 11 desa di kawasan Gunung Bromo secara berurutan yang berakhir di Desa Wonokitri, Kamis (27/10).

Selama perayaan Hari Raya Karo para Dukun Tengger melayani warganya dengan doa-doa dari rumah ke rumah semua warga.

Pada Hari Raya Karo juga dilaksanakan doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh masing-masing tokoh agama, yakni Hindu, Islam dan Kristen.

Hari Raya Karo bagi masyarakat suku Tengger di Gunung Bromo merupakan perayaan ritual terbesar. Untuk menyiapkan upacara pembukaan Hari Raya Karo tahun ini, menurut Kepala Desa Tosari, Iskandar, mencapai Rp62,2 juta.

Dana tersebut merupakan hasil iuran masyarakat di wilayah Tosari, Puspo, dan Nongkojajar. Dana tersebut belum termasuk biaya selamatan yang dilaksanakan secara perseorangan di rumah masing-masing warga.

Bupati Pasuruan Dade Angga berharap tradisi warisan leluhur itu bisa tetap dilestarikan sehingga mampu menjadi salah satu daya tarik wisatawan dan mampu memberikan dampak positif terhadap bergeraknya roda perekonomian masyarakat. (*)