Surabaya - Sekitar 5.100 mahasiswa baru ITS Surabaya akan mengikuti "Gugur Gunung" atau kerja bakti menanam pohon di sekitar stadion olah raga, masjid, dan asrama mahasiswa guna menandai program "Eco-Campus" di kampus setempat pada 17 September mendatang.

"Tahukah Anda, ITS membayar biaya listrik Rp500 juta per bulan, membayar biaya air Rp300 juta per bulan, dan menghasilkan 4,5 ton sampah per bulan, sehingga kami harus mengeluarkan Rp9,65 miliar untuk listrik dan air," kata Ketua Program Eco-Campus ITS, Dr Eng Ahmad Rusdiansyah, di Surabaya, Kamis.

Didampingi Sekretaris Program Eco-Campus, Susi Wilujeng ST MT, dan Ketua Program Gugur Gunung (G2), Dr Bambang Sampurno, ia menjelaskan untuk 4,5 ton sampah per bulan itu setara dengan menebang 108 pohon per bulan, karena satu ton kertas setara dengan 24 pohon.

"Karena itu, kami berusaha mencanangkan program penghijauan kampus secara terpadu hingga lima tahun ke depan melalui delapan program Eco-Campus yang berkelanjutan hingga ITS menjadi kampus yang mendukung pemulihan energi yang rusak," katanya.

Ke-delapan program Eco-Campus adalah revitalisasi masterplan ITS (gedung baru yang hemat energi), sosio-engineering (rekayasa teknologi hemat energi seperti kartu listrik di hotel atau listrik mati otomatis), gerakan internal (bersepeda di kampus), effisiensi air (zonaisasi meteran air per-fakultas), efisiensi listrik, pengelolaan sampah terpadu (composting center), hutan kampus terpadu, dan wahana internal kampus (kereta antar-jurusan).

Menurut dia, Eco-Campus yang ditandai dengan 'Gugur Gunung' atau G2 (Go Green) yang dibuka Rektor ITS Prof Dr Ir Triyogi Yuwono dan Wali kota Surabaya Tri Rismaharini serta ribuan mahasiswa baru itu akan dimeriahkan dengan gerakan penanaman 1.500 pohon oleh 5.100 mahasiswa baru, pemasangan pin Eco-Campus, dan pelepasan burung.

"Acaranya juga akan diramaikan dengan hiburan musik tentang lingkungan, sosialisasi program Eco-Campus ITS, lomba yel atau slogan lingkungan, lomba pohon asuh, dan lomba Eco-Quote (slogan lingkungan dalam desain pin)," katanya.

Ia mengatakan G2 untuk mahasiswa baru itu akan berlangsung selama enam bulan, karena itu para mahasiswa baru itu akan diikutkan dalam lomba pohon asuh yakni 3-4 mahasiswa baru akan mengasuh atau merawat satu pohon hingga 1.500 pohon yang ditanam akan benar-benar hidup.

"Setiap tiga tim mahasiswa akan didampingi satu mahasiswa pembimbing dari BEM ITS. Mereka harus merawat dengan menyiram atau memberi pupuk, lalu mereka juga mencatat ukuran ketinggian pohon yang ditanam dalam setiap bulan. Kalau tanamannya mati, mereka akan diberi sanksi berupa pemberian pohon lagi untuk dirawat selama enam bulan lagi," katanya.

Ditanya tentang peran dari mahasiswa lama, ia mengatakan mahasiswa lama dan sivitas akademika ITS akan melakukan penanaman pohon dan pelepasan burung dalam setiap Dies Natalis ITS, sehingga "Eco-Campus" akan menjadi tradisi di ITS.

"Kami juga akan mengawali tradisi bersepeda dengan menyediakan 500-600 sepeda kayuh dari lapangan parkir Graha ITS ke berbagai jurusan, lalu akan ada uji emisi rutin," katanya.

Nantinya, di setiap fakultas akan ada kawasan tanaman yang berbeda, seperti kawasan tanaman langka (juwet, manggis, klampis, dan sebagainya), kawasan tanaman produktif (mangga) yang melibatkan masyarakat sekitar kampus, kawasan pengamatan burung, dan laboratorium alam untuk sarana penelitian bagi mahasiswa Biologi dari berbagai universitas.

"Untuk gedung yang baru atau akan dibangun, kami akan mendesain dengan konsep 'greenbuilding' sehingga nanti tidak akan menggunakan AC di ruang-ruang perkuliahan, sedangkan di luar gedung akan ada jalur sepeda dan sarana transportasi seperti kereta kelinci yang menghubungkan antar-jurusan dalam jadwal waktu yang terprogram," katanya.


(Foto: Tiga tim Eco-Campus mulai dari Ketua (kiri) dan Sekretaris (tengah) serta Ketua Program Gugur Gunung (kanan)