Surabaya - Rumah Sakit Umum dr Soetomo merawat dan menangani delapan pasien korban petasan selama hampir tiga pekan bulan Ramadhan.

"Sejak awal bulan, kami sudah merawat delapan pasien. Untung saja tidak ada yang lukanya sampai parah atau harus dirawat inap beberapa hari," ujar Kepala Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU dr Soetomo, dr Urip Murtedjo SpB-KL kepada wartawan di Surabaya, Jumat.

Jumlah tersebut sudah melebihi total korban ledakan petasan pada Ramadhan tahun lalu yang terhitung hanya lima orang. Dari delapan korban tersebut, tujuh di antaranya berasal dari Surabaya. Sementara satu korban lainnya berasal dari Bangkalan.

"Korban yang terakhir masuk rumah sakit bernama Noval (12) warga Jalan Dharmawangsa, Surabaya. Bocah itu terkena petasan tepat di bagian pantatnya. Untung saja lukanya tidak parah dan hanya diperlukan rawat jalan," tutur Urip.

Sementara itu, dari delapan korban yang mendapat perawatan, tiga orang di antaranya menderita luka paling parah, yakni mengalami luka bakar di bagian tangan dan harus menginap di rumah sakit selama satu malam.

Masing-masing korban bernama Sulaiman (50) dan Misnadi (51) asal Surabaya. Kemudian satu lagi yakni Imron (20) yang dirujuk dari Bangkalan.

"Ketiganya harus rela satu ruas jarinya dipotong karena luka bakar di bagian jari tangan," ujarnya.

Kondisi luka yang hampir sama dialami Rozak (10). Bocah naas asal Surabaya itu mengalami luka di ujung jari dan harus kehilangan bagian ujung jarinya.

Berikutnya ada juga korban perempuan, yakni Siti Aisyah (43). Ia mengalami erosi mata akibat ledakan petasan. Beruntung, penglihatannya tidak sampai terganggu atau mengalami kebutaan.

"Lukanya sama dengan luka pasien yang pertama kali dirawat di RSU dr Soetomo akibat petasan, yakni Fikri (11) serta Abdul Ghafur (16). Matanya hanya perlu disiram cairan hingga sembuh dan kembali berfungsi normal," ucap Urip.

Dokter yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Pers RSU dr Soetomo ini mengakui, luka yang dialami korban ledakan petasan sekarang tergolong ringan dan tidak seberat tahun-tahun sebelumnya. Ini disebabkan petasan yang diproduksi sekarang berdaya ledak rendah.

Kendati demikian, pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak bermain petasan. Selain merugikan diri sendiri, petasan juga sangat merugikan orang lain.

"Daripada dibuat beli mercon, kan uangnya lebih baik dimanfaatkan untuk keperluan hidup lainnya," imbau dokter spesialis bedah kepala dan leher tersebut.