Bojonegoro - Harga batu bata produksi Desa Ledokkulon dan Ledokwetan, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Jawa Timur, yang memanfaatkan tanah Bengawan Solo sejak sebulan terakhir turun berkisar 25 persen.

"Turunnya harga batu bata, sebab permintaan turun, di lain pihak produksi batu bata yang dihasilkan para perajin terus meningkat," kata Ketua Koperasi Bata Merah Bojonegoro Agus Budiono, Sabtu.

Menurut dia, harga batu bata, sebulan yang lalu sempat mencapai Rp500 ribu per seribu, di lokasi perajin. Namun sejak sebulan terakhir turun drastis menjadi Rp370 ribu per seribu.
Ia menjelaskan, dengan kemarau yang panas sekarang ini, dengan cepat perajin batu bata di dua desa sentra penghasil batu bata tersebut secara stabil memproduksi batu bata.

Di dua desa tersebut, dengan jumlah 200 perajin batu bata, produksinya setiap perajin berkisar 700 batu bata basah per harinya.

"Proses batu bata siap dipasarkan 10 hari, mulai mencetak, mengeringkan hingga pembakaran," katanya dibenarkan perajin perajin batu bata asal Ledokwetan Edy Yulianto.

Berbeda, lanjutnya, kalau pada musim kemarau masih turun hujan, bisa mengakibatkan proses pengeringan batu bata terganggu. "Intinya produksi dan stok batu bata di dua desa tersebut saat ini melimpah, " katanya mengungkapkan.

Di lain pihak, menurut dia, permintaan batu bata dari masyarakat sudah mulai berkurang, selain kebutuhan batu bata atas proyek pemerintah, tidak terlalu banyak membutuhkan bata bata.

Menjawab pertanyaan, ia mengungkapkan, batu bata para perajin tetap laku. Hanya saja, batu bata tersebut, dibeli para pedagang yang menimbun batu bata tersebut dan menjual kembali ketika harga batu bata mahal.

Bahkan, lanjutnya, para perajin bisa memperoleh uang terlebih dulu dan membayar pinjamannya tersebut, dengan batu bata yang harganya di bawah harga pasaran.

"Di tempat kami ada sejumlah pedagang yang biasa menimbun batu bata," katanya menambahkan.