Kediri - Perajin mukena di Kediri, hingga Ramadhan yang sudah berjalan satu pekan ini masih terus kebanjiran order, bahkan meningkat hingga 200 persen.

"Permintaan mukena sampai saat ini masih terus banyak. Kalau Ramadhan dan mau Lebaran seperti ini, permintaan bisa naik, bahkan sampai 200 persen," kata Mashudi, salah seorang perajin mukena di Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota Kediri, Sabtu.

Ia mengatakan, pesanan mukena sudah mulai ada kenaikan sebelum Ramadhan. Tiap bulan ia biasanya memproduksi sekitar 400 mukena, tapi, saat Ramadhan, naik hingga 800 pesanan.

Kondisi itu membuatnya harus bekerja ekstra keras. Ia dibantu oleh sembilan orang karyawannya terpaksa harus lembur hingga larut malam. Ia juga sering bekerja hingga 24 jam, dengan sedikit istirahat, demi menyelesaikan pesanan.

"Terpaksa tambah jam kerja. Mesin hidup hingga 24 jam, demi memenuhi pesanan. Kalau tidak begitu, kami khawatir tidak selesai," ucapnya.

Ia mengatakan, harga jual mukena produksinya juga tidak terlalu mahal, yaitu Rp45 ribu hingga Rp65 ribu, tergantung jenis kain dan ornamen bordir yang menghiasi mukena tersebut. Beberapa jenis kain yang digunakan untuk mukena adalah jenis katun dan spandek. Namun, produknya lebih banyak dari jenis kain parasut.

Mashudi mengatakan, usaha ini sudah berjalan selama dua tahun. Selama itu, ia jatuh bangun merintis usaha ini. Ia juga sadar, pasar konfeksi, terutama di Jawa ini sangat ketat, hingga ia lebih memilih memasarkan produksinya ke luar Jawa.

Beberapa daerah yang menjadi target penjualan produksinya di antaranya di Papua, Kendari, Ambon, Palangkaraya. Namun, beberapa produknya juga dijual ke beberapa kota di Jawa Timur dan Jawa Barat.

"Kalau pasar di Jawa sudah terlalu banyak saingannya, jadi lebih memilih menjual produk ke luar Jawa. Selama ini, banyak teman-teman yang membantu menjualkan produk," ucapnya.

Selain membuat mukena, usaha milik Mashudi ini juga membuat baju muslim baik laki-laki maupun perempuan. Permintaan baju muslim ini juga meningkat selama Ramadhan.

Mashudi mengaku, mempunyai rencana untuk bisa menembus pasar ekspor, terutama untuk mukena. Sayangnya, hingga kini fasilitas alat masih terbatas, hingga ia terpaksa mengurung niatnya itu.

"Kalau pasar ekspor, jenis kainnya juga khusus. Selain sulit, modal juga masih terbatas. Kami inginnya bisa tembus ekspor, tapi masih sulit," ucap Mashudi.