Tulungagung - Petani di Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu, Kabuaten Tulungagung, Jawa Timur, memiliki cara unik mengatasi serangan hama tikus yang menyerang tanaman padi mereka, yakni dengan menggunakan minyak srimpi yang biasa digunakan untuk parfum orang meninggal/mayat.

Menurut salah satu petani, Mulyati (60), penggunaan minyak mayat ini berangkat dari rasa putus asa para petani, sebab serangan tikus di sawah mereka sulit diatasi.

"Sudah berbagai cara kami lakukan, mulai dari memesang jebakan, umpan beracun hingga memagari sawah dengan plastik hitam, tapi tidak ada yang efektif. Iseng-iseng kami gunakan minyak srimpi yang biasa untuk parfum orang meninggal," terangnya.

Penggunaan parfum mayat ini ternyata cukup efektif dalam membendung serangan hanya tikus pada tanaman padi. Setidaknya setelah disemprot dengan parfum ini, tikus pergi dan tidak lagi memakan batang padi yang masih berumur tiga minggu ke atas.

Penggunaannya pun sangat mudah, satu botol minyak srimpi dicampur dengan air sebanyak dua tangki alat penyemprot hama. Selanjutnya, campuran air dan minyak tersebut disemprotkan ke arah batang padi.

"Tinggal campur saja, satu botol minyak srimpi dengan dua tangki air lalu disemprotkan ke arah batang. Harganya per botolnya cukup murah, jadi tidak menghabiskan biaya," katanya.

Namun cara ini tidak sepenuhnya efektif mengusir tikus, sebab dalam jangka waktu tertentu tikus-tikus akan kembali menyerang lagi. Diduga karena efek bau minyak srimpi yang sangat harum dan menyengat sudah hilang.

"Mungkin tikus takut pada baunya yang sangat harum menyengat. Setiap bulan, kalau baunya sudah mulai hilang harus disemprot lagi," imbuhnya.

Sementara, Humas Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Disperta) Kabupaten Tulungagung, Tri Widyo Agus Basuki, yang akran dipanggil Oki menjelaskan, selama ini belum ada penelitian cara mengusir tikus dengan bau-bauan.

Namun menurutnya, disperta mengapresiasi kreativitas para petani yang mencoba menemukan cara yang lebih efektif dalam mengatasi serangan hama tikus.

"Selama ini belum ada penelitian tentang mengatasi serangan hama tikus dengan bau-bauan. Tapi ini perlu diapresiasi, mungkin nantinya ada formula yang mengatasi seranagn tikus dengan cara ini," katanya.

Lanjut Oki, selama ini disperta menganggap mengendalian paling fektif terhadap hama tikus dengan melakukan dengan cara diburu dan dibunuh, mulai dari induk hingga anak-anaknya.

Data dari Disperta Kabupaten Tulungagung, dari 50 ribu sawah yang ditanami padi, 160 hektare di antaranya diserang oleh hama tikus dan 12 hektare di antaranya mengalami puso alias gagal panen.

Namun disperta menjamin, serangan tersebut masih terkendali dan tidak akan membahayakan pada prosuksi padi Kabupaten Tulungagung secara keseluruhan. *