Surabaya - Kepolisian Sektor Genteng, Surabaya, berhasil membekuk jaringan penipuan berkedok undian berhadiah ratusan juta rupiah yang mengatasnamakan sebuah perusahaan dan instansi kepolisian.

"Kami mengapresiasi pengungkapan aparat Polsek Genteng. Jaringan ini sangat berbahaya dan meresahkan masyarakat, karena banyak yang tertipu dalam jumlah besar," ujar Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Coki Manurung kepada wartawan di Mapolsek Genteng, Jalan Ambengan, Surabaya, Senin.

Polisi berhasil menangkap lima pelaku, masing-masing berinisial Wan (22) asal Sidrap Sulawesi Selatan, Mul (23) warga Ngeni Jaya Waru, Sidoarjo, dan Wis (27), Asl (25), dan Bad (19) ketiganya warga Perum Wisma Tengger, Benowo, Surabaya.

"Di Surabaya kelima pelaku ini hanya mengontrak rumah untuk dijadikan lokasi persembunyian dan melakukan aksinya. Komplotan ini berasal dari Sulawesi Selatan semua," tutur dia.

Pengungkapan kasus ini berawal dari razia intensif yang digelar aparat Polsek Genteng. Saat itu, dua pelaku yakni Wan dan Wis melintas dan terjaring operasi. Semula tidak ada yang dicurigai dari dua orang yang berboncengan sepeda motor itu, namun karena berusaha mengelak saat akan diperiksa tas plastik yang dibawanya, polisi semakin curiga dan mengendus ketidak-beresan.

"Petugas langsung memeriksanya dan melihat ratusan kertas undian berhadiah ratusan juta rupiah. Karena curiga palsu, kedua orang itu dibawa ke Mapolsek untuk dimintai keterangan. Ternyata benar, undian itu palsu dan menyesatkan," papar mantan Kapolres Bojonegoro tersebut.

Sementara itu, Kapolsek Genteng Komisaris Polisi Budi Santoso mengungkapkan, setelah menginterogasi dua tersangka, pihaknya melakukan pengembangan penyidikan hingga berhasil menggerebek sebuah rumah kontrakan di kawasan Benowo.

Dari sana juga, lanjut dia, polisi membekuk tersangka-tersangka lainnya. Namun sayang, polisi belum membekuk semua pelaku yang termasuk dalam jaringan ini. Dua tersangka lainnya masih belum keluar dari tempat persembunyiannya dan dinyatakan buron.

"Dua buronan yang belum terungkap berinsial Oko (34) dan Lan (23). Identitas keduanya sudah dikantongi dan tidak lama lagi bakal kami ringkus," kata Budi yakin.

Dijelaskannya, modus yang dilakukan jaringan ini adalah dengan meletakkan dan menyebarkan undian berhadiah di depan rumah warga. Karena ditempeli nama instansi resmi dan berhologram, tidak sedikit warga yang menjadi korban.

Tidak tanggung-tanggung, sejak beraksi pada 2010, jaringan ini sudah mengumpulkan uang hingga sekitar Rp200 juta. Mereka mendapatkannya dari para korban yang tertipu mengirimkan uang melalui bank dengan iming-iming hadiah menarik, diantaranya rumah mewah.

Dari tangan tersangka, polisi menyita barang yakni 38 buku tabungan berbagai bank swasta, 10 kartu ATM, 15 ponsel, tiga mesin printer, dua alat tekan plastik, puluhan mesin scanner, ribuan lembar kupon berhadiah fiktif dari berbagai perusahaan, dan buku yang berisi daftar korban yang sudah menyetor uang.

Akibat perbuatan yang dilakukannya, para tersangka dijerat Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman empat tahun penjara.