Surabaya - Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra (FE-UKP) Surabaya memperbanyak program-program terapan dalam menghadapi perjanjian perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara dan China (ACFTA).

"Tidak hanya sektor ekonomi, kami pun yang berkecimpung di bidang pendidikan juga harus siap menghadapi ACFTA ini dengan menyiapkan para lulusan yang profesional," kata Dekan FE-UKP Surabaya, Diah Dhamayanti, S.E,,M.Si., C.P.M., Sabtu.

Menurut dia, mahasiswa tidak cukup hanya diberi materi kuliah berisi teori-teori, tetapi juga harus dengan ilmu-ilmu terapan.

Oleh karena FE-UKP pun tak segan-segan mendatangkan kalangan profesional yang sukses di bidangnya sebagai tenaga pengajar.

FE-UKP juga menjalin kerja sama dengan asosiasi-asosiasi profesional dan praktisi bisnis, di antaranya dengan menandatangani nota kerja sama (MoU) antara UKP dengan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo), dan Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi).

"Pimpinan asosiasi itu bersedia memberikan kuliah kepada mahasiswa kami setiap hari Sabtu," katanya usai penandatanganan MoU dengan AFI, Apkrindo, dan Gapmmi.

Selain menjalin kerja sama dengan pihak profesional, FE-UKP juga memberikan mata kuliah "Mal dan Ritel" kepada mahasiswa semester VI jurusan Manajemen Pariwisata.

FE-UKP merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang memasukkan mata kuliah itu dalam kurikulum pendidikan.

"Kami juga ingin memberikan materi yang bisa menumbuhkan semangat wirausahawan kepada para mahasiswa," kata Ketua Jurusan Manajemen Pariwisata FE-UKP, Foedjiwati, S.S.,M.A.

Mata kuliah enam satuan kredit semester (SKS) itu diisi dengan enam kali tatap muka di kelas oleh tenaga pengajar dari kalangan profesional dan selebihnya tugas lapangan di mal di Surabaya, Jakarta, dan Singapura.