Jember - Petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur, menolak rencana pemerintah yang akan menaikkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi yang mencapai 50 persen.

"Naiknya HET pupuk akan menyebabkan petani menderita. Seluruh petani saya rasa merasa keberatan atas rencana itu," kata Ketua Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro, kepada ANTARA di Jember, Kamis.

Pemerintah berencana menaikkan harga eceran HET pupuk bersubsidi pada bulan April 2010, bahkan kabarnya kenaikkan HET tersebut mencapai 50 persen.

Menurut Jumantoro, pada awal April merupakan musim tanam (MT) II, sehingga pada saat itu, banyak petani yang membutuhkan pupuk bersubsidi untuk tanaman mereka.

"Hal ini akan menyebabkan kondisi di lapangan semakin amburadul karena petani tidak akan mampu membeli pupuk yang harganya mahal, bahkan kemungkinan tanaman mereka tidak akan dipupuk. Kebijakan pemerintah untuk menaikkan HET pupuk tidak berpihak kepada petani," ucapnya tegas.

Kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, kata dia, masih jauh dari harapan petani. Bahkan, kenyataan di lapangan masih banyak petani yang tidak mengetahui HPP tersebut.

"Sebagian petani tidak tahu tentang kenaikkan HPP gabah, sehingga mereka menjualnya dengan harga HPP lama," paparnya.

Ia menjelaskan, ketidakseimbangan biaya produksi dengan hasil panen dikhawatirkan akan merugikan petani, bahkan hal tersebut diperparah dengan naiknya HET pupuk.

"Produksi padi pada musim panen ini cenderung menurun karena banyaknya serangan hama dan cuaca buruk serta bencana alam seperti banjir dan angin puting beliung," tuturnya.

Ia berharap, pemerintah meninjau ulang rencana kenaikkan HET pupuk bersubsidi, sehingga kesejahteraan petani tidak semakin terpuruk.