Oleh Didik Kusbiantoro

Surabaya - Ketergantungan industri gula nasional terhadap produk gula impor dipastikan akan berlangsung hingga 2014, ketika program swasembada gula yang dicanangkan pemerintah mampu direalisasikan.

Sebagai negara agraris dengan dukungan sumber daya alam yang melimpah, sangat naif rasanya kalau Indonesia harus masuk dalam jajaran negara pengimpor gula.

Era kejayaan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor gula terbesar di dunia pada masa penjajahan Belanda hingga beberapa tahun setelah kemerdekaan, kini hanya tinggal kenangan.

Pemerintah agaknya terlalu percaya diri dengan keberhasilan industri gula saat itu, hingga lupa membenahi kebijakan tata niaga gula.

Selain itu, kondisi pabrik gula peninggalan pemerintah Belanda yang semakin tua dan mengalami penurunan kemampuan dalam berproduksi, tidak segera diantisipasi dengan pembangunan pabrik baru.

Sementara kebutuhan gula dalam negeri juga terus meningkat, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya sektor industri makanan dan minuman.

Akibatnya, hasil produksi gula selalu tidak sebanding dengan kebutuhan atau permintaan. Untuk menutup kekurangan, tidak ada jalan lain kecuali melakukan impor.

Bahkan, industri gula nasional terus mengalami keterpurukan dan tidak pernah lepas dari jerat impor hingga saat ini, apakah impor itu untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi atau industri makanan dan minuman.

Terakhir pada 2010, pemerintah telah memutuskan untuk mendatangkan sebanyak 500 ribu ton gula impor, guna menutup defisit gula akibat tidak tercapainya target produksi pada 2009.

Produksi gula nasional pada musim giling 2009 hanya tercapai sekitar 2,4 juta ton, meleset sebanyak 300 ribu ton dari target semula 2,7 juta ton.

Hampir 50 persen produksi gula nasional disumbangkan oleh lebih dari 30 pabrik gula di Jawa Timur yang dikelola PTPN X, XI, PT Rajawali Nusantara Indonesia dan PT Kebon Agung.

Menyusutnya lahan budidaya tanaman tebu dan pengaruh iklim yang kurang kondusif, menjadi beberapa faktor merosotnya produksi gula tersebut.

"Turunnya motivasi petani akibat anjloknya harga gula pada musim sebelumnya, menjadi salah satu penyebab menyusutnya lahan budidaya tebu," ujar Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Adig Suwandi.

Jadi Rebutan

Persoalan pergulaan semakin pelik, ketika jumlah produksi yang sangat terbatas itu, masih harus menjadi rebutan antara masyarakat dengan industri makanan dan minuman.

Mahalnya harga gula dunia akibat menurunnya produksi di sejumlah negara produsen gula dunia, membuat pelaku industri makanan dan minuman dalam negeri tidak berani melakukan impor.

Mereka memilih menggunakan gula produksi lokal sebagai bahan baku pembuatan makanan dan minuman, karena pertimbangan harganya yang lebih murah.

Harga gula dunia beberapa waktu terakhir mendekati kisaran 700 dolar AS per ton FOB (harga di negara asal dan belum termasuk berbagai komponen biaya pendukung jika masuk ke Indonesia).

Dalam kondisi demikian, hukum pasar tidak bisa dihindari. Permintaan gula yang sangat tinggi dari konsumen, sementara stok sangat terbatas, membuat harga komoditi tersebut melambung.

Harga gula lokal di tingkat konsumen akhir sempat menembus angka Rp12 ribu per kilogram, meskipun beberapa pekan terakhir sudah turun mendekati level Rp10 ribu per kilogram.

Lonjakan harga gula membuat ekonomi masyarakat makin tertekan, apalagi harga kebutuhan pokok lainnya juga ikut-ikutan naik.

Di sisi lain, kenaikan harga gula lokal disambut gembira kalangan petani tebu, setelah beberapa tahun terakhir dipusingkan gelontoran gula rafinasi impor.

Dalam beberapa kali tender yang dilakukan PT Perkebunan Nusantara, harga gula petani sempat menembus sekitar Rp8 ribu per kilogram.

Angka itu jauh di atas harga dasar yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp5.300 per kilogram dan juga harga lelang musim sebelumnya yang hanya berkisar Rp5 ribu-Rp6 ribu per kilogram.

"Keuntungan yang didapat petani bisa digunakan untuk modal tanam musim 2010. Apalagi, ongkos produksi tebu juga terus naik," kata Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) H.M. Arum Sabil.

Anggota Dewan Gula Indonesia (DGI) ini menambahkan harga gula yang kondusif akan memotivasi petani untuk melakukan budidaya tanaman tebu.

"Begitu juga sebaliknya, jika harga gula anjlok dan tidak sebanding dengan ongkos produksi yang dikeluarkan, gairah petani untuk tanam tebu juga turun," tambah Arum.

Kejar Swasembada

Terlepas dari kondisi obyektif yang terjadi, kenaikan harga gula dunia yang berimbas pada gula lokal, harus menjadi pertimbangan pemerintah untuk mempercepat realisasi program swasembada gula.

Hanya dengan swasembada, problem pergulaan nasional yang terjadi hampir setiap tahun diharapkan bisa terpecahkan.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyatakan PTPNa siap membangun 15 pabrik gula baru dari 20 pabrik yang dibangun pemerintah dalam rangka revitalisasi pabrik gula nasional.

"Sesuai rencana, BUMN akan mengambil porsi 10-15 unit pabrik gula untuk dibangun PTPN," kata Menteri BUMN Mustafa Abubakar usai rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR di Jakarta pertengahan Februari lalu.

Pembangunan pabrik gula itu terkait dengan kebijakan pemerintah untuk mewujudkan program swasembada gula nasional melalui Rencana Aksi Program Revitalisasi Industri Gula 2010-2014.

Mustafa menjelaskan, investasi yang dibutuhkan untuk program revitalisasi industri gula mencapai Rp4,43 triliun, meliputi Rp3,62 triliun untuk sektor "off farm" dan Rp815 miliar untuk sektor "on farm".

"Dengan revitalisasi tersebut, produksi gula nasional pada 2014 ditargetkan bisa mencapai 3,54 juta ton, dimana sebanyak 65,58 persennya adalah kontribusi pabrik gula PTPN," kata Mustafa.

"Program itu tidak akan berjalan dan mencapai hasil maksimal, tanpa dukungan kuat dari lembaga perbankan nasional," tambah mantan Kepala Perum Bulog itu.

Menurut Mustafa, untuk mempercepat realisasi revitaliasi industri gula nasional, pemerintah segera membuat nota kesepahaman lima menteri. yakni Menteri BUMN, Menteri Kehutanan, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Perindustrian.

Wakil Sekjen Ikagi Adig Suwandi menambahkan, pemerintah dapat saja memberikan subsidi bunga pinjaman kepada perusahaan yang melakukan revitalisasi pabrik gula.

"Kebijakan itu jelas akan sangat membantu meringankan beban perusahaan," ujarnya.

Menurut Adig, kenaikan harga gula dunia hendaknya memotivasi kalangan petani tebu dan pabrik gula, untuk terus meningkatkan skala usaha dan produktivitas tebu yang diikuti dengan praktek terbaik.

"Hanya melalui cara itulah, Indonesia dapat terhindar dari dampak krisis gula dunia," tutur alumni Universitas Brawijaya Malang itu.

Sedangkan untuk meningkatan produktivitas, pemerintah perlu melakukan intervensi dalam bentuk kebijakan yang kondusif, memberdayakan dan terintegrasi.

"Artinya, jangan ada lagi gula rafinasi yang merembes masuk ke pasar eceran sehingga menjadi kompetitor tidak sehat terhadap gula lokal," ujar menambahka.