Jombang - Konsentrasi belajar para santri di Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur selama beberapa hari terakhir terganggu oleh para peziarah di makam mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"Aktivitas belajar mereka jelas terganggu," kata pengasuh PP Tebuireng, K.H. Sholahuddin Wahid (Gus Sholah), di Jombang, Senin.

Situasi pondok pesantren di pinggir Jalan Raya Jombang-Pare yang biasanya tenang itu tiba-tiba ramai dan semrawut sejak beberapa hari terakhir.

"Memang kami merasa terhormat oleh kedatangan peziarah ke makam Gus Dur yang tak pernah berhenti dari siang hingga malam, tetapi kasihan santri kami," kata adik kandung Gus Dur itu.

Oleh sebab itu, dia meminta bantuan pemerintah untuk mengatasi persoalan itu, apalagi dalam waktu dekat ini di antara para santri PP Tebuireng harus mengikuti Ujian Nasional (UN).

"Saya mau 'sambat' (mengadu) kepada pemerintah pusat karena Gus Dur itu milik umat dan negara. Bagaimana persoalan ini segera bisa teratasi," kata Gus Sholah.

Ia sudah mendapatkan informasi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang yang akan membangun fasilitas umum di sekitar PP Tebuireng dengan dana yang telah disiapkan senilai Rp2 miliar.

"Kalau bisa hal itu segera direalisasikan. Coba Anda lihat, seperti apa pondok ini kalau semua kendaraan peziarah masuk ke halaman," katanya saat ditemui di kediamannya di sebelah utara masjid pondok itu.

Demikian pula dengan kamar mandi santri, terlihat kumuh dan kotor karena banyaknya peziarah yang turut memanfaatkannya.

Menurut dia, yang paling mendesak untuk dibangun adalah tempat parkir kendaraan, kamar kecil, dan fasilitas lainnya yang khusus untuk para peziarah sehingga tidak menggunakan fasilitas santri di PP Tebuireng.

Sejak Gus Dur dimakamkan di PP Tebuireng pada 31 Desember 2009, masyarakat berbondong-bondong mendatangi makam yang berlokasi di sebelah barat masjid pondok itu baik secara berkelompok maupun sendirian mulai pagi hingga malam hari.

Tak jarang di antara para peziarah, khususnya yang berasal dari luar Jawa Timur ada yang menginap sampai berhari-hari. Puncak kepadatan massa terlihat pada peringatan tujuh hari (5/1) dan 40 hari wafatnya Gus Dur (7/2).

Halaman pondok itu becek, bahkan kamar-kamar santri pun kotor karena digunakan puluhan ribu peziarah untuk berteduh dari hujan yang mengguyur Jombang dan sekitarnya sejak Minggu (7/2) sore hingga malam hari.*