Palembang - Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) H. Tifatul Sembiring mengkritik wajah Indonesia dalam "kacamata" media.
"Wajah itu bukan hanya aksi unjuk rasa dan pertikaian antarsuku seperti yang sering disiarkan media, tapi sesungguhnya masih banyak hasil karya yang dilahirkan anak bangsa negeri ini," katanya ketika memberi sambutan pada Konvensi Media Nasional di Palembang, Senin.
Oleh karena itu, ia mengatakan kebebasan pers negeri ini hendaknya lebih memperlihatkan wajah Indonesia secara makro dan apa adanya.
Pada acara yang dihadiri tokoh pers nasional seperti H. Rosihan Anwar, Menkominfo mengatakan kebebesan kini sudah menjadi suatu keharusan untuk mencerdaskan dengan tujuan mempercepat kemajuan pembangunan berbagai sektor di Indonesia.
"Lalu apa yang harus dilakukan setelah kebebasan pers terjadi," katanya, mengutip beberapa kisah Harun Ar Rasyid yang dikaitkan dengan perkembangan pers dan kemajuan media di Indonesia dewasa ini.
Menurut dia, perkembangan dan kemajuan pers dewasa ini semakin cepat dengan berbagai informasi terkini yang disiarkan dan tersebar ke seluruh polosok negeri, baik unjuk rasa seperti sering terjadi sekarang maupun aksi lainnya di seluruh Indonesia.
Berbagai informasi yang disiarkan media itu menunjukkan bahwa kebebasan pers di negeri ini sudah terjadi dan terus bergulir. Kebebasan itu harus diiringi niat mencerdaskan bangsa melalui media yang sekarang semakin maju dan berkembang tersebut.
"Itu penting dilakukan sebagai upaya menjawab tantangan dan pertanyaannya, apa yang mesti dikedepankan setelah kebebasan pers di tengah perkembangan persaingan media massa dengan berbagai media elektronik seperti web serta sarana informasi lainnya," katanya.
Oleh karena itu, media diharapkan menjaga karakternya, seimbang, dan netralitas dalam menyiarkan informasi, karena wajah Indonesia bukan hanya unjuk rasa, tapi banyak kegiatan positif yang dilakukan anak bangsa sesuai dengan tugas dan kapasitasnya masing-masing.
Dalam dunia pers dewasa ini bukan hanya seperti sering dikatakan orang bahwa "orang naik kuda belum bisa menjadi berita, tapi kuda naik orang itu baru berita".
"Mungkin itu benar, tapi jangan lupa masih ada yang lebih benar seperti kegiatan pembangunan peningkatan kesejahteraan rakyat," katanya.
Ia mengatakan tidak sedikit hasil karya anak bangsa yang perlu disampaikan media dan tidak tertutup kemungkinan akan lebih baik dari informasi lainnya seperti kebijakan bagi pembangunan karakter bangsa negeri ini.
Menkominfo Kritik Wajah Indonesia dalam "Kacamata" Media
Top Stories : Nasional
Tajuk
Tradisi Belanja Lebaran




























