Kediri - Bagi warga Dusun Surowono, Desa Canggu, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, keberadaan Gua Sumber Penguripan bukanlah hal yang asing.
Gua yang terletak di wilayah Utara, sekitar 24 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Kediri tersebut, sudah ada semenjak zaman Kerajaan Majapahit.
Hal tersebut dimungkinkan, dari temuan lokasi Candi Surowono (lima kilometer dari lokasi gua) yang diperkirakan dibangun sejak 1400 Masehi. Lokasi candi yang berlatar belakang agama Hindu tersebut, ditemukan bersamaan dengan penemuan lokasi gua.
Gua tersebut terletak di tanah warga setempat, yaitu milik Samsul (53) dan Mistiatun (48). Dengan ketinggian sekitar delapan meter dari atas permukaan tanah, gua tersebut terkesan misterius.
"Jumlah gua itu ada lima unit, yang masing-masing menghubungkan satu dengan lainnya," kata Mistiatun, pemilik tanah saat ditemui di rumahnya.
Ia mengungkapkan, di dalam gua tersebut mempunyai banyak cabang. Bahkan, jika tidak hati-hati, dapat terperangkap, dan tidak dapat keluar hidup-hidup. Hal tersebut disebabkan, terdapat beberapa jalan keluar dari gua yang buntu.
Untuk itu, pihaknya sengaja mengunci pintu masuk menuju goa tersebut. Ia baru membuka, jika ada yang berniat masuk. Itupun, harus dengan menyertakan penunjuk jalan, yang merupakan warga setempat.
"Selain itu, di dalam gua juga sangat gelap, sehingga harus ada penunjuk jalannya. Tidak jarang, ada hewan yang hidup di sana," ucapnya mengungkapkan.
Di jalan menuju gua dikelilingi air dengan kedalaman sekitar dua meter. Kedalaman itu akan berkurang ketika sudah berada di dalam gua, yang hanya sekitar 1,5 meter saja.
Menuju ke dalam mulut gua, pengunjung akan melewati jalur setapak yang lebarnya hanya sekitar 1-1,5 meter menuju ke bawah. Tiba di depan mulut gua, lubang juga nisbi cukup sempit, dengan lebar sekitar tiga meter saja.
Sementara itu, dari lima gua yang saling berhubungan, yang paling panjang terdapat di bagian halaman belakang rumah Mistiatun, dengan panjang sekitar 1,5 kilometer. Sementara, gua lainnya hanya sekitar 100-150 meter.
Menurut Mistiatun, tingkat misterius gua tersebut adalah kabar yang menyebutkan, gua itu mampu tembus hingga ke lokasi Candi Surowono yang letaknya sekitar lima kilometer dari lokasi sumber.
Bahkan, kabar lain menyebutkan, jika gua itu juga tembus hingga lokasi Gunung Kelud yang terletak di perkebunan Margomulyo, Kecamatan Ngancar, kabupaten setempat.
Walaupun ada kabar yang menyebutkan mampu menembus hingga beberapa lokasi, namun, hingga kini belum ada yang berani mencobanya.
"Hingga kini, belum ada warga yang berani untuk membuktikan kabar itu. Pernah ada yang mencoba lewat jalur selatan, namun, setelah berjalan sekitar lima meter sesak nafas, dan tidak berani melanjutkan perjalanan," papar Mistiatun.
Karena takut terjadi apa-apa, pihaknya lantas mengunci pintu masuk menuju gua sebelah selatan. Pihaknya khawatir, pengunjung akan nekat, yang dapat berakibat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Mistiatun juga mengungkapkan, sumber air di gua tersebut tidak pernah mati. Bahkan, ia dan warga sekitar juga memanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, jika terjadi pemutusan aliran listrik di daerahnya.
Untuk menuju lokasi gua tersebut bukanlah yang sulit. Lokasi itu dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum baik bus jurusan Pare-Jombang maupun lyn (angkutan umum desa) jurusan Pare-Surowono dengan ongkos sekitar Rp5.000,00 per orang.
Sayangnya, saat ini angkutan umum yang lewat daerah tersebut sudah habis sejak 2008, karena sepinya penumpang.
Para pengunjung dapat memanfaatkan angkutan kendaraan bermotor atau ojek di perempatan Bringin, Kecamatan Badas hingga lokasi wisata dengan ongkos sekitar Rp5.000,00 per orang.
Ongkos masuk pun sangat murah. Warga hanya mematok kepada pengunjung yang diberikan kepada pemandu yang mengantarkan menelusuri gua, dengan nilai rata-rata Rp25.000,00.
Sementara itu, tingkat keramaian pengunjung di lokasi itu dapat terlihat saat libur. Jumlah pengunjung akan meningkat cukup drastis hingga ratusan orang di hari-hari seperti Sabtu-Minggu. Sementara, untuk hari-hari biasa, jumlah pengunjung nisbi sepi.
Selain gua tersebut, masih terdapat dua bangunan lainnya yang saling terikat, yaitu Candi Surowono dan Sumber Drajat, yang saat ini sudah diubah menjadi tempat pemandian umum dan dibentuk kolam renang.
Tidak Pernah Mati

Desa Canggu dijuluki desa sumber air. Di lokasi ini terdapat sedikitnya enam mata air atau sumber air, di antaranya di Sumber Canggu, Sumber Kencong, Sumber Dempok, Sumber Makalan, Sumber Drajat (yang saat ini sudah diubah menjadi lokasi pemandian), dan Sumber Kahuripan.
Semua sumber mata air tersebut hampir tidak pernah mati di setiap musim. Bahkan, debit air mulai dulu hingga sekarang masih tetap.
Menurut Kepala Desa Canggu, Saptonoko, melimpahnya sumber mata air itu merupakan berkah tersendiri bagi warga yang rata-rata bekerja sebagai petani dan peternak ikan.
Sumber mata air tersebut, membuat tanaman warga tidak pernah kekeringan setiap tahun, sehingga hasil produksi juga melimpah. Dengan itu, juga ikut menyejahterakan 2.710 kepala keluarga (KK) di lokasi itu.
"Warga kami dapat sejahtera dengan melimpahnya sumber air. Bahkan, sumber itu bisa dikatakan tidak pernah mati, sehingga kami tidak kekurangan air," tutur Saptonoko.
Luas lahan di daerah itu mencapai 550 hektare. Dari luas itu, sebagian besar bekerja sebagai petani dan peternak ikan. Rata-rata, mereka beternak ikan air tawar, seperti nila, lele, tombro.
Bahkan, karena melimpahnya sumber air, mereka dapat memperluas pasar penjualan ikan, dengan mampu mengirimkan ke beberapa daerah di luar Jawa Timur, seperti Jawa Barat, Kalimantan, dan beberapa daerah lainnya.
Sayangnya, hingga saat ini infrastruktur di lokasi itu masih belum maksimal. Masih terdapat beberapa jalan yang belum beraspal hotmix, sehingga cukup mengganggu para pengunjung yang hendak menuju lokasi wisata, termasuk di jalan menuju lokasi itu.
"Kami sebenarnya sudah mengupayakan dengan mengajukan permohonan kepada pemda. Namun, hingga kini belum direalisasi," kata Kepala Desa Canggu, Saptonoko mengungkapkan.
Untuk itu, pihaknya mendesak, supaya pemda segera tanggap untuk pembenahan infrastruktur menuju lokasi wisata itu. Dengan itu, pihaknya berharap, dapat meningkatkan animo pengunjung untuk datang ke lokasi, sehingga juga meningkatkan kesejahteraan warga dan pendapatan desa.
"Harapan kami, pemda tanggap dan membantu untuk memperbaiki infrastruktur menuju ke lokasi wisata itu. Potensinya sangat besar, jika ditunjang dengan sarana yang memadai," katanya mengungkapkan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Kediri, Mudjianto mengaku saat ini pihaknya masih melakukan pengkajian terhadap struktur tanah di lokasi gua tersebut.
"Jika hasil kajian menyebutkan lokasi tanah cukup stabil, kami akan membicarakan dengan pemilik lahan dan desa, untuk dapat mengelolanya," ujar Mudjianto.
Ia mengaku, hingga kini belum bisa berbuat banyak untuk mengelola goa tersebut, karena masuk di lahan warga. Pihaknya hanya bisa mengelola lokasi pemandian, dengan menambah beberapa sarana dan prasarana supaya lebih menarik.





























