Kuala Lumpur - Seorang pembantu rumah tangga (PRT) asal Indonesia Nurul Aida meninggal dunia ketika dibawa oleh agensinya ke Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (21/1) sekitar pukul 21.25, namun penyebab kematiannya sedang diselidiki pihak kepolisian.

"Nurul Aida dibawa ke Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur oleh tiga wanita warga Malaysia untuk mendapatkan perlindungan karena diduga korban disiksa oleh majikannya," kata Satya, staf satgas pelayanan dan perlindungan WNI di KBRI Kuala Lumpur, Jumat dinihari.

Nurul dibawa oleh tiga wanita Malaysia dari rumah majikannya di Melaka dengan menggunakan sebuah mobil. Tiga wanita itu terdiri atas dua etnis China dan satu Melayu. Kasus serupa juga perjadi sebelumnya, yakni pada bulan Oktober 2009, pembantu Indonesia asal Jawa Timur Muntik meninggal dunia karena disiksa majikannya.

Menurut keterangan salah satu dari mereka Too, Nurul Aida ditemukan tergeletak di lantai dengan muka pucat. Sementara kedua majikannya, etnis India, sedang makan di meja makan tidak jauh dari Nurul yang sedang tergeletak tidak berdaya itu.

Saat itu, Too sedang datang ke rumah majikan Nurul. Melihat pembantu Indonesia dalam keadaan tergeletak dan muka pucat, Too kemudian minta ijin agar Nurul dibawa pergi. Kedua majikan setuju asalkan tidak memanggil ambulan dan polisi, demikian keterangan Too kepada, staf Satgas KBRI Satya.

Atas bantuan anak majikan, Nurul diangkat ke mobil Too. Salah seorang teman Too, bekas perawat juga ikut menjadi saksi. Too ternyata tidak membawa Nurul ke kantor polisi atau rumah sakit tapi membawanya ke kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur. Waktu tempuh antara Melaka dengan Kuala Lumpur dengan menggunakan mobil sekitar dua jam.

Diduga, dalam perjalanan Nurul kemudian meninggal dunia. "Menurut pengakuan Too dan kawannya, karena sudah menimbulkan bau tak sedap, Nurul dipindahkan dari kursi mobil ke bagasi. Namun sudah diberikan alas dan selimut," kata Satya.

"Setelah tiba di kedutaan dan diterima petugas piket, saya meminta Too membawa jenazah Nurul ke Hospital Kuala Lumpur, karena di rumah sakit itu juga ada kantor polisinya untuk diautopsi dan dibuatkan laporan polisi setelah konsultasi dengan wakil ketua polisi Melaka," kata Satya.

"Terus kepolisian Melaka marah besar kenapa ada kejadian ini dibawa ke kedutaan bukannya ke kantor polisi atau ke rumah sakit," kata Satya setelah konsultasi dengan kepolisian Melaka dan Kuala Lumpur.

Oleh sebab itu, Too dan seorang kawannya, yang semula berniat membantu Nurul kini dijadikan tersangka pembunuhan dan ditahan seminggu untuk dimintai keterangan oleh kepolisian Kuala Lumpur.

Setelah ditanya kepolisian barulah ketahuan Too ternyata pemasok pembantu Individual (perorangan) bukan sebuah perusahaan agensi resmi. Ia memberikan Nurul Aida kepada majikan India untuk dijadikan pekerja restoran.

"Karena Aida datang sebagai pelancong di Malaysia dan belum ada ijin kerja makanya Too sering kontrol Nurul. Saat datang ke majikan Nurul Kamis sore ternyata dia sedang tergeletak di lantai dengan muka pucat & biru sedangkan majikannya malah asyik makan," kata Satya berdasarkan cerita Too.

Sebagai pemasok pembantu, Too memegang paspor Nurul Aida. Berdasarkan paspor Nurul, Nurul masuk ke Malaysia pada 1 Februari 2009 sebagai turis (pelancong). Paspor dikeluarkan dari Tanjung Balai Asahan 23 Januari 2009.

"Seharusnya Nurul keluar Malaysia 28 Maret 2009 jadi kini status dia adalah pendatang ilegal karena 'over stay'," kata Galuh, staf Satgas KBRI yang mendampingi Satya.