Rabu, 13 Desember 2017

Dua Guru Besar Baru Universitas Brawijaya Dikukuhkan

id guru besar, UB, dikukuhkan
Dua Guru Besar Baru Universitas Brawijaya Dikukuhkan
Prof Dr Veronica Margareta Ani Nurgiartiningsih, Guru Besar Bidang Ilmu Pemuliaan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (UB) Malang (Endang Sukarelawati (Antarajatim))
Malang (Antara Jatim) - Universitas Brawijaya (UB) Malang, Kamis, mengukuhkan dua guru besar sekaligus, yakni Prof Dr Veronica Margareta Ani Nurgiartiningsih dari Fakultas Peternakan dan Prof Dr Yuyun Yueniwati Prabowowati Wadjib dari Fakultas Kedokteran.

Kedua guru besar tersebut masing-masing dikukuhkan sebagai guru besar ke-233 dan 234 UB. Veronica dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Pemuliaan Ternak, sedangkan Yuyun dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Radiologi.

Baik Veronica maupun Yuyun tidak membutuhkan waktu lama ntuk memproses menjadi guru besar. Keduanya hanya butuh waktu kurang dari setahun karena ada program percepatan guru besar.

"Saya mengajukan proses guru besar ini pada Desember 2016. Ini proses yang sangat cepat," kata Veronica yang akrab disapa Ani tersebut.

Dalam pidato ilmiahnya yang mengambil judul "Peningkatan Performans Produksi Sapi Lokal Indonesia Melalui Seleksi" itu, Ani menyoroti kelemahan yang cukup menonjol dari sapi Indonesia. "Produktivitas sapi Indonesia ini masih tergolong rendah," katanya.

Rendahnya produktivitas sapi tersebut, kata Ani, disebabkan rendahnya kualitas bibit dan ketersediaan bibit unggul sapi. Selain itu, pertumbuhan populasi yang lamban dan cenderung konstan pada sapi pedaging.

Menurut Ani, penyebab utama lambannya pertumbuhan tersebut akibat dari tingginya pemotongan sapi betina produktif, seleksi negatif dan "inbreeding", yakni silang dalam (perkawinan antara ternak yang mempunyai hubungan saudara).

Secara genetis, inbreeding meningkatkan homosigisitas dan dapat meningkatkan peluang munculnya gangguan reproduksi dan cacat fisik. Selain itu, perkawinan silang (crossbreeding) juga menjadi salah satu ancaman pengembangan populasi sapi lokal.

Sementara itu Prof Dr Yuyun dalam pidato ilmiahnya mengatakan stroke bukan penyakit yang tidak bisa dicegah dan tidak bisa disembuhkan. Namun demikian, deteksi dini dan pencegahan lebih penting daripada pengobatan, bahkan menjadi prioritas.

Pada dekade terakhir ini, lanjutnya, ada kecenderungan usia penderita stroke semakin muda, padahal semakin muda umur terkena stroke, prognosis semakin jelek.

"Deteksi dini stroke, yang terkait dengan aterosklerosis dilakukan dengan mengukur ketebalan intima-media arteri carotis menggunakan suatu alat yang tidak invasif, tanpa radiasi efek samping, yang menggunakan ultrasonografi (USG)," katanya.

Radiologi, katanya, memiliki8 peran penting dalam mengevaluasi ketebalan intima media, derajat dan lokasi stenosis, serta kelainan lain."Pengukuran ketebalan intima bisa dilakukan tanpa persiapan khusus, baik penderita stroke, penderita dengan risiko terkena aterosklerosis atau anak penderita stroke iskemik," ujarnya.(*)


Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0088 seconds memory usage: 0.58 MB