Selasa, 17 Oktober 2017

Menengok Potensi Bisnis "Co-Working Space" di Surabaya (2)

id Potensi Bisnis, Co-Working Space, Surabaya
Menengok Potensi Bisnis
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan semangat kepada kepada anak-anak muda kreatif dan pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang mendapatkan pelatihan dari Youtobe di koridor gedung Siola Kota Surabaya.
Jadi, ketika kalian datang ke sini tidak hanya menyalurkan hobi semata, tetapi diharapkan mampu menciptakan suatu karya yang kemudian menghasilkan uang
Surabaya (Antara Jatim) - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mendukung industri kreatif masyarakatnya dengan menyediakan "Co-Working Space". Risma juga mendukung program inkubasi dan akselerasi startup kreatif berbasis teknologi yang bernama "Start Surabaya".
     
Tak hanya itu, Risma juga sempat mempromosikannya dalam sebuah diskusi panel di acara "Startup Nations Summit 2016", sebuah forum pelaku dan pengambil kebijakan startup seluruh dunia. Acara tersebut dilaksanakan di Cork, Irlandia,  pada 18-20 November 2016. 

Dalam acara tersebut, mantan Kepala Bappeko Surabaya itu mendapatkan peringkat kedua "Startup Nations Award for Local Policy Leadership 2016". Penghargaan tersebut diberikan kepada Risma yang dinilai berhasil mengimplementasikan kebijakan dalam mendorong pengembangan startup di Surabaya.

Pada kesempatan itu, ia mempromosikan pula agar pertemuan tingkat tinggi "Startup Nations Summit 2018" bisa diselenggarakan di Surabaya. Pesaing Surabaya untuk menjadi tuan rumah forum internasional itu adalah Istanbul, Turki, yang telah mengajukan diri lebih dulu.

Risma juga menularkan semangat kepada kreator Youtube dan Pelaku UKM di Surabaya melalui program "Creators for Change" di Indonesia. Melalui  program yang diluncurkan Youtube anak usaha Google itu, ia berharap bisa memunculkan kreator YouTube dari berbagai daerah di Indonesia sekaligus memperbanyak persebaran konten video positif. 

Youtube sendiri sempat memberi pelatihan kepada anak-anak muda di koridor "Co-Working Space" Siola Surabaya. Kepada anak-anak muda kreatif Surabaya, Risma berpesan agar anak-anak memanfaatkan pelatihan ini semaksimal mungkin. Sebab, baginya tidak hanya menambah dan mengasah ilmu tetapi harus ada sesuatu yang lebih. 

"Jadi, ketika kalian datang ke sini tidak hanya menyalurkan hobi semata, tetapi diharapkan mampu menciptakan suatu karya yang kemudian menghasilkan uang," katanya.  

Risma menyampaikan bahwa beberapa tahun ke depan, pesan dari sebuah gambar akan lebih kuat ketimbang tulisan. Sebab, gambar lebih memudahkan orang untuk memahami suatu peristiwa ketimbang kata-kata.

Di tempat yang sama, perempuan yang pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota surabaya ini juga memberi semangat kepada pelaku UKM yang mengikuti pelatihan bersama gapura digital. Ia mengingatkan kepada pelaku UKM yang mayoritas ibu-ibu untuk terus menginovasi produk-produknya. 

Pelaku UKM diharapkan mampu memanfaatkan wadah yang sudah tersedia bersama gapura digital. Karena, dengan terus berlatih dan mengenal dunia digital, maka produk yang dihasilkan akan mengalami peningkatan dan bisa bersaing dengan pasar dunia lainnya.

Apa yang dilakukan Risma tersebut selaras dengan visi besar Presiden RI Joko Widodo dalam sektor ekonomi digital. Jokowi menargetkan Indonesia untuk menjadi kekuatan ekonomi digital terbesar di ASEAN pada 2020, dengan proyeksi nilai transaksi e-commerce mencapai 130 juta dolar AS pada tahun 2020. 

Meskipun visi ini terkesan ambisius, namun Pemerintah memiliki dasar yang kuat dalam mencanangkan target ini. Salah satu alasan yang kuat adalah melihat fakta bahwa perilaku masyarakat Indonesia sangat berorientasi digital.   

Data dari Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) serta We Are Social menyebutkan bahwa pengguna internet Indonesia berada di kisaran 52 persen, dan sebagian besar di antaranya mengakses internet secara mobile selama 4 jam per hari. Saat ini terdapat 370 juta kartu telepon atau SIM aktif di Indonesia, jauh lebih besar dari populasi Indonesia yang sudah hampir mencapai 270 juta penduduk.

Terlepas dari pembangunan infrastruktur yang belum merata, industri ekonomi digital di Indonesia bisa dibilang sangat menggeliat. Hal ini ditandai dengan tumbuh pesatnya berbagai perusahaan rintisan (startup) yang berbasis aplikasi. 

Data dari situs startupranking.com mencatat bahwa saat ini terdapat 1.463 startup di Indonesia. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah start-up terbesar ketiga di dunia, hanya kalah dari Amerika Serikat dan India. 

Menariknya, tren pertumbuhan startup ini dipelopori oleh para generasi muda yang memiliki semangat sociopreneurship, yakni bagaimana mereka dapat menyelesaikan berbagai masalah yang ada di masyarakat serta memberikan dampak yang signifikan lewat medium teknologi. 

Salah satu contohnya adalah bagaimana Nadiem Makarim mendirikan Go-Jek untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan moda transportasi ojek yang cepat dan dapat diandalkan. Contoh lain adalah William Tanuwijaya, CEO Tokopedia yang awalnya punya visi untuk mempermudah siapapun agar dapat memulai bisnis mereka sendiri lewat medium internet.

Diminati Pekerja Muda


"Co-Working Space" sekarang sedang menjadi tren di Indonesia khususnya kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Denpasar. Bahkan tren model perkantoran atau ruang kerja di Kota Surabaya semakin mengarah pada konsep "Co-Working Space" sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial dan teknologi.

Di Surabaya sendiri, sebenarnya sudah ada beberapa "Co-Working Space" yang bermunculan. Tetapi tidak semuanya terekspos dengan  baik. Beberapa "Co-Working Space" di Surabaya ada yang tidak hanya sekedar mempunyai internet cepat, tapi juga menyediakan lingkungan yang nyaman dan dilengkapi sejumlah fasilitas.

 "Co-Working Space" tersebut di antaranya  Nin3 Space di Jl. Ketintang Madya, Revio di Jl. Kaliwaron, SUB. Coworking Space di Jl. Darmo Harapan Surabaya Barat, Regus Surabaya di Sinar Mas Land Plaza, Forward Factory di Gedung Spazio, dan Gedung Creative–Digital Hub di Jl. Manyar Tirtomoyo, dan Co-Working Space di Eks Gedung Siola.

Dalam Focus Group Discussion Jurnalis Ekonomi Bisnis Surabaya (Forjebs) beberapa waktu lalu, Pengamat Tata Kota dari ITS Johan Silas mengatakan siklus tren cara bekerja dan ruang kerja "Co-Working Space" ini juga terjadi di luar negeri, di mana masyarakat kini cenderung membentuk komunitas untuk bisa berkreasi.

Menurutnya konsep seperti ini yang nanti akan berkembang. Itu sebabnya kenapa Surabaya membuat banyak taman, karena untuk menampung masyarakat dalam berkomunitas untuk dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul membicarakan bisnisnya.

Wakil Presiden Direktur PT. Intiland Development Tbk, Sinarto Darmawan mengatakan "Co-Working Space" sudah mulai banyak diminati pekerja terutama usia muda dan yang bergerak di industri kreatif. Ia mencontohkan di mana banyak orang-orang Jakarta yang datang ke Surabaya untuk mengerjakan pekerjaannya di Co-Working Space.

Sinarto mengatakan Intiland sendiri akan kembali membuat "Co-Working Space" di Surabaya Barat tepatnya di Gedung Spazio untuk menumbuhkan kehidupan sosial dan ekonomi di kawasan tersebut.

"Dulu kalau orang bekerja itu tersembunyi oleh sekat-sekat, tapi sekarang tidak bisa, anak muda kalau kerja harus bisa melihat orang lain, dan itu bisa mempengaruhi kreatifitas. Selain itu bisnis juga membutuhkan gengsi tinggi, konsep ini sudah jadi tren dan kalau kami yakin, kami akan buat," ujarnya.

Sinarto menambahkan secara bisnis, "Co-Working Space" ini merupakan nilai tambah yang diberikan pengembang kepada pembeli properti untuk mengembangkan kawasan tersebut. Dengan menyediakan space ini, akan terjadi geliat ekonomi, dan semakin banyak kegiatan di tempat "Co-Working Space", maka akan semakin baik.

Ada beberapa startup asal Surabaya yang perlu diketahui publik, seperti halnya Klub Laundry. Startup ini berupa wadah bagi penyedia jasa laundry dan mereka yang ingin mencuci pakaiannya. Klub Laundry terbentuk karena berbagai keluhan mengenai baju hilang, sobek, maupun masalah negatif lainnya. 

Selain itu, ada startup Agenda Kota yang fokus utama  memberikan pengalaman akhir pekan terbaik bagi penggunanya dengan cara mendekatkan penyelenggara acara dengan pesertanya. Pengguna dapat melihat berbagai informasi acara yang diadakan setiap harinya. 

Reblood atau bagian dari Start Surabaya adalah sebuah aplikasi yang dibuat untuk meningkatkan kepedulian terkait donor darah. Pengguna aplikasi ini juga akan diajak untuk hidup lebih sehat dengan melakukan kegiatan donor darah. 

Startup lain yang juga termasuk dalam Start Surabaya adalah Anterin Dong. Startup ini merupakan sebuah platform yang menyediakan jasa pengiriman antar kota. Anterin Dong membantu penggunanya dalam melakukan pengiriman dan penjemputan barang, serta sebagai kurir pribadi.

IDN Media merupakan sebuah platform portal berita dalam jaringan (daring) yang menyasar anak muda atau generasi millennial dan generasi Z. IDN Media memiliki beberapa unit bisnis berupa portal berita dan creative network. Salah satunya IDN Times yang menerbitkan ratusan artikel menarik dan bermanfaat bagi para pembaca. 

Kingdorm, merupakan startup untuk mempromosikan tempat kos. Platform ini akan menghubungkan pemilik kos dengan mereka yang sedang mencari kos. Tentunya pencari kos akan lebih mudah menemukan tempat tinggal sesuai seleranya. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0079 seconds memory usage: 0.64 MB