Anak Sekolah Mendominasi Penderita Penyakit DBD di Indonesia

id DBD, anak sekolah

Anak Sekolah Mendominasi Penderita Penyakit DBD di Indonesia

Media briefing "Nyamuk Bandel, Perkembangannya & Wabah yang Ditimbulkan" di Surabaya, Kamis. (Willy Irawan)

"Penyakit DBD memang paling banyak menyerang anak-anak saat berada di sekolah. Karena kaki mereka tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran empuk nyamuk jenis Aedes Aegypti," katanya saat media briefing "Nyamuk Bandel, Perkembangannya & Wabah yang Ditimbulkan" di Surabaya, Kamis.
Surabaya (Antara Jatim) - Peneliti dari Persatuan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (PETRI) Dr Leonard Nainggolan mengungkapkan penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia terbanyak didominasi oleh anak-anak sekolah.

"Penyakit DBD memang paling banyak menyerang anak-anak saat berada di sekolah. Karena kaki mereka tersembunyi di bawah meja menjadi sasaran empuk nyamuk jenis Aedes aegypti," katanya saat media briefing "Nyamuk Bandel, Perkembangannya & Wabah yang Ditimbulkan" di Surabaya, Kamis.

Leonard mengatakan, hal itu dikarenakan nyamuk dewasa sangat menyukai area gelap dan benda-benda berwarna hitam atau merah.  Di Indonesia, nyamuk Aedes aegypti umumnya memiliki habitat di lingkungan perumahan dan tempat terdapat banyak penampungan air bersih.

Dari data Kementerian Kesehatan, kata dia, penyakit DBD hingga saat ini terus berkontribusi besar dalam meningkatkan jumlah kasus kematian di Indonesia. Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 201.885 Orang di 34 Provinsi terjangkit DBD dan 1.585 orang meninggal akibat DBD. "Artinya, kasus kematian akibat DBD per hari itu tiga-lima orang dalam satu harinya," kata dia.

Gejala DBD, lanjut dia, bisa diketahui melalui tanda-tanda seperti demam mendadak, sakit kepala, nyeri belakang bola mata, mual, dan juga manifestasi pendarahan seperti mimisan.

Untuk itu, perlu adanya upaya-upaya pengendalian DBD. Salah satunya yakni mengupayakan pembudayaan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M plus secara berkelanjutan sepanjang tahun. Selain itu mewujudkan gerakan satu rumah satu jumantik.

"Pelatihan tata laksana kasus untuk dokter dan tenaga kesehatan di puskesmas dan rumah sakit juga perlu dilakukan," ujarnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Surabaya, dr Mira Novia mengutarakan paling banyak kasus penularan di Kota Surabaya ada di Kecamatan Tambaksari. Hal ini karena penduduknya paling padat dan terbanyak.

"Tapi, kita sudah banyak sekali melakukan sesuatu dan itu didukung Bu Wali (Tri Rismaharini). Para camat dan lurah juga setiap jumat pagi selalu kerja bakti," katanya.

Menurut dia, tren kasus DBD di Kota Surabaya menunjukkan penurunan hingga September 2017. Hal ini bisa dilihat pada tahun 2016 tercatat 938. Dan tahun ini tercatat ada 302 kasus. "Artinya, dari angka itu sangat menurun drastis kasus DBD di Surabaya," tuturnya.(*)
Pewarta :
Editor: Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar