Rabu, 13 Desember 2017

Mendagri: Saya Lawan Siapapun Penghina Presiden

id mendagri, jatim, hari jadi, surabaya, presiden
Mendagri: Saya Lawan Siapapun Penghina Presiden
Mendagri Tjahjo Kumolo saat menyalami peserta upacara peringatan Hari Jadi Ke-72 Provinsi Jawa Timur di Tugu Pahlawan Surabaya, Kamis (12/10). (Foto Didik Suhartono)
Selaku pembantu Presiden akan siap melawan siapapun yang menghinanya, termasuk melecehkan lambang negara
Surabaya (Antara Jatim) - Menteri Dalam Negeri RI Tjahjo Kumolo menegaskan siap melawan siapapun yang menghina Presiden Joko Widodo karena merupakan simbol negara.

"Selaku pembantu Presiden akan siap melawan siapapun yang menghinanya, termasuk melecehkan lambang negara," ujarnya kepada wartawan usai menjadi inspektur upacara peringatan Hari Jadi Ke-72 Provinsi Jawa Timur di Tugu Pahlawan Surabaya, Kamis.

Pihaknya juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga nilai dan martabat bangsa dengan bersikap tegas terhadap siapapun yang berusaha memecahkan lambang negara.

"Tak hanya peran TNI dan Polri menjaga kesatuan negara ini, tapi kita sebagai masyarakat dan rakyat Indonesia harus bersinergi untuk berbuat yang terbaik menjaganya," ucap mantan Sekjen DPP PDI Perjungan tersebut.

Sebagai bangsa yang menganut sistem demokrasi yang memberikan ruang bagi masyarakat berpendapat, kata dia, ia mempersilakan siapapun yang ingin memberikan masukan, kritik dan saran terhadap pemerintah dengan syarat tidak melanggar aturan yang ada.

"Bersikap kritis boleh, memberi pendapat boleh, jadi oposisi boleh tapi ada aturan-aturan yang ada. Jangan fitnah, jangan berujar kebencian dan jangan mengumbar SARA. Ini yang harus dilawan," katanya.

Di sisi lain, Mendagri juga mengingatkan bahwa 2018 merupakan tahun politik yang digelar 171 Pilkada serentak serta memasuki tahapan-tahapan Pemilihan Umum Legislatif serta Pemilihan Presiden 2019.

Ia mengharapkan seluruh elemen, mulai calon kepala daerah, calon anggota legislatif, tim sukses hingga individu-individu tidak menyampaikan ujaran kebencian karena akan berakibat negatif serta merusak bangsa.

"Justru mereka harus beradu konsep dan gagasan, kemudian mengajak masyarakat berpartisipasi aktif agar tercipta pemimpin yang amanah, berintegritas sesuai dengan pilihan rakyat," katanya. (*)

Editor: Chandra Hamdani Noer


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0645 seconds memory usage: 0.58 MB