Jumat, 22 September 2017

Pantai Ngalur, "Surga" di Balik Hutan Lindung

id Pantai Ngalur, Tulungagung, Destyan, Wisata Pantai
Pantai Ngalur,
Wisatawan menikmati keindahan panorama wisata alam yang masih asri di Pantai Ngalur, Tulungagung, Jawa Timur, Kamis (27/4). Pantai Ngalur yang berpasir putih dan dihiasi terumbu karang cukup luas di balik kawasan lindung daerah itu merupakan destinasi wisata yang mulai diminati wisatawan lokal maupun komunitas backpacker asing. Antara Jatim/Destyan Sujarwoko/zk/17 ()
Beberapa turis saat itu bahkan menyamakan eksotisme alam kawasan pesisir di balik hutan lindung Pantai Ngalur itu dengan kawasan lindung di Brazil, dengan hutan Amazon-nya yang terkenal.
Nama Pantai Ngalur mendadak kian masyur sejak ratusan anggota komunitas backpaker "rainbow" dari berbagai negara dunia menggelar "gathering" ala kehidupan manusia zaman batu (flinstone) pada April 2017.

Objek wisata pantai yang lokasinya ada di balik belantara hutan lindung Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, Kabupaten Tulungagung ini memang memiliki daya tarik alam yang luar biasa eksotis.

Tak hanya menyuguhkan pemandangan pantai dengan pasir putihnya yang membentang bersih serta pemandangan laut biru dengan debur ombak terus membuncah ke tepi pantai, kawasan ini juga menyuguhkan suasana alam liar yang benar-benar masih perawan.

Bagaimana tidak, hanya sejengkal di depan pantai ini membentang hutan lindung yang masih alami. Aneka pohon liar tumbuh subur laiknya kebun besar yang menyembunyikan keindangan Pantai Ngalur.

Kendati belum atau jarang muncul laporan temuan binatang buas, berbagai satwa liar yang sebagian masuk spesies langka dilindungi masih banyak ditemukan di daerah ini.
    
Maklum saja, kawasan hutan lindung di pesisir Tulungagung bagian selatan ini mencapai 17.787 hektare, tersebar di wilayah Kecamatan Pucanglaban, Tanggunggunung, Rejotangan, serta Kalidawir.
    
Vegetasi tanaman yang masih bagus berpadu dengan keindahan panorama pantai berpasir putih dengan air yang biru jernih inilah yang menjadi alasan ratusan wisatawan asing yang tergabung dalam komunitas rainbow "kepincut" singgah dan berkemah alam di daerah ini hingga dua bulan lebih.
    
Beberapa turis saat itu bahkan menyamakan eksotisme alam kawasan pesisir di balik hutan lindung Pantai Ngalur itu dengan kawasan lindung di Brazil, dengan hutan Amazon-nya yang terkenal.
    
Sejak kedatangan para turis komunitas rainbow dunia yang "memuja" kehidupan alam liar ala flinstone inilah yang kemudian membubungkan nama Pantai Ngalur dalam khasanah wisata pesisir di Tulungagung.
    
Jika dulu sempat tenar objek wisata Pantai Kedung Tumpang di pesisir Tulungagung bagian timur, lalu Pantai Sidem di Tulungagung bagian barat berkat pembukaan jalur lintas selatan atau jalur pantai selatan (Pansela), kini menyeruak nama Pantai Ngalur.
    
Lokasi persisnya ada di Desa Jengglungharjo, salah satu desa pedalaman di Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung.
    
Dari pusat kota Tulungagung, jaraknya sekitar 25 kilometer. Kendati dikategorikan pedalaman, untuk sampai di Desa Jengglungharjo ini masih bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat jenis SUV, pikap, ataupun minibus.
    
Pokoknya kendaraan kondisi sehat dan tidak bergardan rendah, menuju desa pedalaman ini dari pusat kota hanya butuh waktu perjalanan sekitar sejam dengan kecepatan normal/sedang. Akses infrastruktur ke desa ini sudah beraspal dan makadam, namun sebagian besar sudah rusak.
    
Masalahnya, akses dari dusun terakhir Desa Jengglungharjo menuju Pantai Ngalur yang tidak mudah. Jarak dari pemukiman menuju Pantai Ngalur kurang-lebih tiga kilometer.
    
Namun dengan kondisi yang berbukit, jalan setapak yang penuh liat dan licin saat hujan, hanya kendaraan roda dua jenis jelajah atau ber-CC besar dengan ban khusus bisa sampai lokasi.
    
Jika tidak, pilihannya adalah jalan kaki atau menggunakan jasa ojek para pesanggem (istilah untuk peladang hutan) yang motornya telah dimodifikasi untuk mengangkut aneka hasil hutan bagian depan maupun belakang.
    
Kalau jalan kaki, disarankan untuk mempersiapkan stamina karena perjalanan bakal cukup melelahkan. namun jika tidak cukup kuat dan berbatas waktu, disarankan menggunakan jasa ojek saja.
    
Ongkosnya hanya Rp20 ribu sekali jalan, atau maksimal Rp30 ribu sekali negosiasi. Ongkos jasa ojek itu pula yang dipatok saat komunitas rainbow hilir mudik dari kawasan hutan lindung Pantai Ngalur.
    
Surga Kecil

Kondisi alam yang didominasi hutan lebat dengan akses yang sangat minim memang membuat perjalanan menuju Pantai Ngalur sangat berat.
    
Namun bagi wisatawan yang menyukai nuansa jelajah alam nan-ekstrem, kondisi tersebut justru menjadi hal yang menyenangkan.
    
Bawalah motor jenis jelajah seperti trail untuk menuju tempat ini. Bagi yang suka wisata alam bahkan bisa melakukannya dengan jalan kaki sambil bereskplorasi membuat jalur lintas alam yang tentunya harus ramah lingkungan dan tidak merusak.
    
Dijamin, begitu sampai di Pantai Ngalur semua lelah akan terbayar. Di kawasan pesisir ini para pelancong bahkan tidak hanya akan disuguhi keindahan alam Pantai Ngalur yang sempat membuat para wisatawan asing komunitas rainbow betah tinggal hingga sebulan lebih demi berkemah di pinggiran hutan lindung yang berhadapan dengan laut.
    
Tak jauh dari Pantai Ngalur, terdapat Pantai Sanggar yang tak kalah indahnya. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer dan bisa ditempuh jalan kaki menyusuri pantai.
    
Masih ada beberapa pantai lain tak jauh dari Pantai Ngalur ini, seperti Pantai Pathok Gebang, Jung Pakis, Sine di arah sebelah timur, serta Pantai Popoh dan Sidem yang ada di seberang arah barat Pantai Sanggar.
    
Namun lokasinya yang tertutup hutan lindung dan bukit karang membuat akses antar objek wisata ini tidak mudah ditempuh.
    
Paket wisata paling mungkin dimaksimalkan jika bermain ke Pantai Ngalur adalah Pantai Sanggar dan panorama hutan lindung itu sendiri.
    
Dengan suasananya yang masih sunyi-sepi dan alami, menginap di alam liar dengan cara berkemah bisa menjadi opsi menarik yang cukup menantang adrenalin.
    
Meski di pantai ini tidak bisa langsung melihat pemandangan matahari terbit dan/atau tenggelam (sunrise-sunset), panorama jingga bertemaram pada sore hari atau nuansa geliat pagi yang segar dengan musik alam liarnya bisa menjadi keindahan surga kecil yang mungkin sangat jarang ditemukan di kawasan pesisir lain di Jatim selatan. (*)

Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0092 seconds memory usage: 0.62 MB