Sabtu, 18 November 2017

Ketika Santri Ber-Iduladha Jauh dari Keluarga

id Santri Beri-Iduladha, ponpes Nurul Jadid
Ketika Santri Ber-Iduladha Jauh dari Keluarga
Suasana saat santriwati Ponpes Nurul Jadid bersama orang tuanya di Probolinggo, Sabtu. ((Masuki M. Astro))
Probolinggo (Antara Jatim) - Pondok Pesantren yang didirikan oleh ulama-ulama sepuh, khusunya dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) telah menunjukkan peran besarnya dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Selain mencetak ulama dan bahkan tidak sedikit yang alumninya menjadi pemimpin bangsa, pondok pesantren juga telah mencetak insan-insan intelektual yang memiliki karakter kuat.

Memilih menjadi santri bukan sekadar belajar intensif untuk mendalami ilmu agama di pondok pesantren, namun juga tentang ilmu kehidupan, yakni hidup mandiri dan tidak cengeng.

Di saat anak-anak lain menikmati malam takbiran Idul Adha bersama orang tua, para santri justru berada di tempat jauh karena hampir semua pondok pesantren (pendidikan khas keagamaan di Indonesia) tidak memberlakukan libur saat Idul Adha.

Secara umum, libur (santri bisa pulang dan berkumpul dengan orang tua) di pondok pesantren hanya ada dua kali dalam setahun, yakni pada akhir tahun ajaran atau saat kenaikan kelas yang biasanya bersamaan dengan libur puasa hingga Idul Fitri dan saat pergantian semester yang biasanya bersamaan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Seperti yang dialami para santri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, salah satu pesantren besar di Indonesia yang terletak di Desa Karang Anyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Nurul Jadid bermakna cahaya baru.

Ribuan santri putra putri, mulai dari usia sekolah menangah tingkat pertama hingga perguruan tinggi itu, merayakan Hari Raya Idul Kurban di lokasi pondok pesantren.

Akifah Qotrunnada, santri asal Bondowoso, mengaku sudah biasa tidak berlebaran bersama keluarganya karena sebelumnya sudah pernah nyatri di Madura. Namun demikian, ia tidak menampik ketika ditanya adanya kerinduan kepada ayah ibu dan saudara-saudaranya saat kumandang takbir, tahlil dan tahmid menggema.

"Sebetulnya pingin kumpul dengan orang tua, tapi karena peraturan di pondok tidak boleh pulang, ya saya harus terima. Saya sudah biasa," kata siswa Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) ini.

Ia mengemukakan bahwa pada malam takbiran, yakni Kamis (31/8) malam ada beberapa santriwati di asramanya yang menangis yang diuga karena rindu kepada orang tua dan kampung halamannya.

"Melihat teman-teman seperti itu, saya juga hampir menangis, tapi alhamdulillah bisa saya tahan," kata Anisa, santriwati lainnya.

Baik Akifah maupun Anisa mengakui bahwa kegiatan di Pondok Pesantren dalam rangka memeriahkan Idul Adha cukup menghibur mereka, salah satunya lomba takbiran antarasrama.

"Hiburan" lain di sela-sela mereka belajar ilmu agama dan ilmu kehidupan itu adalah saat pengasuh pondok pesantren menyediakan makanan bagi para santri untuk makan bersama.

Mereka juga mengaku senang ketika orang tuanya muncul di pondok untuk "mengirim" mereka. Istilah "mengirim" adalah tradisi orang tua santri menjenguk anak-anaknya di pondok. Disebut mengirim, karena pada tradisi santri terdahulu, orang tua mereka mengirimkan beras untuk bahan memasak para santri.

Namun saat ini tradisi itu berubah karena banyak pondok pesantren yang kini menyediakan kebutuhan makan santri, dengan cara santri membayar sejumlah nilai tertentu setiap bulannya. Dengan demikian, makna "mengirim" saat ini lebih pada menjenguk anak. Biasanya saat mengirim itu, wali santri membawa makanan berupa nasi dan camilan yang kemudian dinikmati bersama-sama.

Selain menikmati hidangan "istimewa", meskipun menunya sederhana, berjumpa orang tua adalah kebahagiaan tersendiri bagi santri, termasuk saat suasana Idul Adha ini. "Senang sekali kalau orang tua sudah datang," kata Akifah.

Sementara Kepala Pesantren Ponpes Nurul Jadid KH Abd Hamid Wahid, MAg kepada Antara menjelaskan bahwa untuk mengisi suasana Idul Adha pihaknya menggelar sejumlah kegiatan, sehingga tercipta kebersamaan yang tinggi antarsantri.

"Kami memasak makanan kemudian semua santri sesuai wilayah asramanya makan bersama. Ada kegiatan lain, seperti lomba takbiran. Kegiatan bersama ini juga berlaku saat suasana bulan puasa, yakni kegiatan gema Ramadhan," kata putera dari ulama intelektual dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) almarhum KH Abdul Wahid Zaini ini.(*)


Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0147 seconds memory usage: 0.66 MB